Ini kisah tentang Singoru-Ngorut dan Siseggu-Seggek si Burung Bangau. Kedua burung ini adalah raja di kelompoknya, yaitu raja kelompak burung ngorut dan raja kelompak burung Segguk. Kedua raja dua jenis burung menjalin hubungan persahabatan atau "pasaripok".Kedua raja burung ini sudah sangat lama menjalin hubungan persahabatan. Namun selama mereka bersahabat si Ngorut sering mengeluh atas perlakuan temannya Siraja Bangau. Siraja Bangau sering menipu Siraja Ngorut. Dalam hal makan juga Ngorut sering tidak mendapat bagian karena Siraja Bangau sangat rakus.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakNgorut juga sering memperingatkan Siraja Bangau agar tidak membawa ikan di lokasi perkumpulan Ngorut, karena Ngorut bukan pemakan ikan. Singorut atau burung Ngorut tidak suka bau amis ikan. Makanan kerajaan Ngorut adalah buah-buahan. Tapi si raja bangau tidak pernah mengindahkan titah dari raja Ngorut. Akhirnya sering anggota kerajaan Ngorut jatuh sakit dan mengakibatkan kematian. Siraja Ngorut merasa tidak senang dan menyimpan dendam dalam hati. Siraja Ngorut pun mulai mengatur rencana.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakPada suatu ketika Siraja Ngorut mengadakan pesta karena musim buah-buahan telah tiba. Agar pesta yang dilaksanakan kerajaan Ngorut lebih ramai dan layaknya kerajaan yang bersahabat, maka untuk meramaikan pesta tersebut Ngorut mengundang seluruh masyarakat kerajaan Segguk si Burung Bangau. Pesta berlangsung satu hari dan satu malam. Pada akhir pesta ngorut sang raja mengumumkan kepada seluruh anggota kedua kerajaan dan minta kepada masyarakat Bangau, bahwa si Raja Segguk harus menginap satu malam di rumah Siraja Ngorut, dengan alasan membuat suatu kesepakatan dalam hal keharmonisan hubungan antar kedua kerajaan.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakKedua belah pihak menyepakati bahwa si Raja Segguk bermalam di kerajaan Ngorut. Setelah hari sudah malam tinggallah mereka berdua berbincang-bincang, antara Siraja Ngorut dan Siraja Bangau. Sebelum mereka tidur Ngorut berkata kepada Raja Bangau.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Katanya saya punya satu permitaan kepadamu sahabat dan sebagai sahabat agar engkau mau mengabulkannya, dan apabila saudara tidak mengabulkannya maka hari itu juga hubungan persahabatan kita terputus sampai di sini."
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Apa itu saudara?" kata Siburung Bangau.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakLalu Siraja Ngorut menjawab, "Selama ini hubungan persahabatan kita memang berjalan baik, tetapi ada hal yang saya rasakan kurang serasi, saudari memiliki leher dan kaki yang sangat panjang, saya mengusulkan agar saudara mau mengurangi ukuran panjang leher dan kaki seperti saya," kata Siraja Ngorut.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Bagaimana caranya?" Siraja Bangau.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Saya punya kesaktian untuk melakukan itu, saudara tidak perlu khawatir," kata Siraja Segguk.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Kalau begitu baiklah," kata Si Bangau.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakSiraja Segguk sudah membuat persiapan yang cukup matang. Di dalam kamar di tempat tidur sudah disiapkannya parang untuk memotong leher Si Bangau.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Sekarang baringkan badanmu dan pejamkan matamu," katanya. Ia pura-pura membaca mantra. Setelah ia memejamkan matanya, Siraja Ngorut mengambil parang yang sudah disiapkan di bawah tempat tidur lalu diayunkan sekuat tenaga ke leher Siraja Bangau dan kakinya juga dipotong dan matilah Siraja Bangau.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakRaja Ngorut tidak merahasiakan kematian sahabatnya Siraja Bangau. Dia menyuruh para anggotanya memanggil anggota kerajaan bangau untuk menguburkan mayat Siraja Bangau. Namun setelah kawanan bangau mendengar kabar kematian raja mereka, para bangau tidak terima. Rakyat bangau menginginkan, mereka harus berperang, namun Siraja Ngorut menjelaskan tentang kejadian itu bahwa raja merekalah yang bodoh, bahwa dia sendiri tidak merasa keberatan agar lehernya dan kakinya dipotong.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakKedua pihak saling angkat senjata dan saling menepuk dada. Nyaris terjadi kontak senjata. Di tengah keributan kedua belah pihak, datanglah kawanan burung Mangkakak "Siraja udang". Ia melerai pertengkaran itu dan meminta keterangan dari kedua belah pihak. Siraja Ngorut menjelaskan kronologis matinya Siraja Segguk.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Saudara-saudara sekalian," kata Siraja Udang. "Saya mohon kedua belah pihak yang saya hormati, saya mengajak saudara-saudara kita sama-sama pergi ke satu lokasi di tepi sebuah sungai, di sanalah nanti masalah ini kita selesaikan,"katanya.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakLalu kedua kawanan burung Kerajaan Ngorut dan Kerajaan Bangau pergi mengikuti raja udang di tepi sebuah sungai.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Saudara-saudara tolong semuanya menghadap ke sungai dan kita semua memperhatikan ikan-ikan yang lewat di hadapan kita," kata Siraja Udang.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Saya mau menangkap seekor ikan untuk saya makan dan setelah itu sidang baru kita mulai, setiap ikan yang lewat kita perhatikan bersama-sama," katanya.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakTak lama kemudian lewatlah ikan-ikan besar grapu, ikan nawi dan ikan gabus yang besar-besar.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Adakah saudara lihat ikan-ikan besar tadi lewat di hadapan kita? Saya rasa kita semua tidak ada yang sanggup menangkapnya," katanya. Tiba-tiba ia terjun ke dalam sungai dan mengangkat seekor ikan kecil, ikan itu adalah ikan teri, diangkatnya ikan teri itu dan ditelannya.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakSi Burung Mangkakak menjelaskan antara ikan besar dan ikan kecil serta tentang dirinya. "Karena ikan-ikan besar tadi bukan ukuran yang bisa saya makan maka saya membiarkannya lewat, setelah ukuran yang kecil sesuai dengan kemampuan saya menangkap dan menelannya itulah yang saya tangkap dan saya makan," katanya.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Hal terjadinya kematian saudara kita Siraja Bangau sebenarnya adalah atas kesepakatan dan karena menyesuaikan ukuran ngorut maka terjadilah pemotongan leher dan kaki yang mengakibatkan saudara kita beristirahat selama-lamanya, maka itulah sebabnya saya mengatakan apa yang dilakukan saudara Siraja Ngorut adalah benar dan saya mohon agar saudara-saudara berdamai," katanya.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Kami tidak setuju, kami harus berperang," kata pihak Bangau.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak"Dengarkan baik-baik saudara-saudara, contoh yang pertama Raja Bangau mati kerena ia bodoh dan congkak, rajanya kalau sudah mati otomatis sudah kalah dalam peperangan, yang kedua, dahulu juga raja bangau mati waktu pacu lari dengan siput di hutan bakau, itu juga karena sombong, mentang-mentang punya leher panjang, kaki panjang, suka meremehkan yang lain, dan akibatnya beliau mati, percayalah, lebih baik kita semua berdamai," kata Raja Udang.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakKawanan burung bangau terdiam sebentar dan menyetujui untuk berdamai dengan kerajaan si Ngorut-ngorut.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius SatairarakDemikianlah cerita dua kerajaan burung ini, semacam cerita kecerdikan binatang.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak
Naskah ini sebelumnya adalah naskah peserta Lomba Penulisan Cerita Rakyat Mentawai (Pumumuan) Kategori Umum. Ditulis oleh Pirja Pius Satairarak warga Katurei, Tiop, Siberut Selatan.
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu oleh Pirja Pius Satairarak