Tabloid Puailiggoubat
Tabloid Puailiggoubat Edisi 145/Tahun VII, 15-31 Mei 2008
Polling


Apakah anda setuju HPH PT Salaki Summa Sejaterah (SSS) mengambil kayu dari Mentawai?



Setuju

Tidak Setuju



Dipublikasikan oleh Rus Akbar
Pemilih: 2299 Komentar: 18
Jajak pendapat sebelumnya

Online
Pengunjung: 2, Anggota: 0 ...

paling banyak online: 236
(Anggota: 0, Pengunjung: 236) pada 06 Jun : 01:13
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom
Username:

Password:


ingat informasi login
Loibak Berita Kematian Warga Mentawai
Abjad Pertama Judul Tulisan
& ( A B C D E F G H I J K L M N P R S T U semuanya Daftar
09 19
Al-Jum'a, 18 Ramadan 1429 H - 21:27:27
oleh: Rus Akbar

Masyarakat Mentawai ternyata memiliki alat komunikasi tradisional yang sangat canggih. Dari bunyinya saja bisa diketahui siapa dan umur berapa orang yang meninggal, jenis kelamin rusa hasil buruan dan lain-lain. Namanya tuddukat.

Malam sekitar pukul 23. 00 WIB, 23 Agustus lalu bulu kudukku merinding dari jauh di Desa Muntei sekitar 2 KM dari tempat tinggalku di Dusun Teitei Sinabak, Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan. Terdengar sayup-sayup di telingaku sebuah bunyi tuddukat tengah malam. Dalam benakku bertanya-tanya siapa lagi yang membunyikan gendang kayu tengah malam. Ini itupun bunyinya sangat lamban, setiap bunyinya memiliki jeda 2 detik kemudian bunyi lagi mulai suara yang besar sampai suara yang kecil tapi lebih banyak suara gendang yang besar. Semakin merinding bulu kudukku jika menyimak bunyi tersebut apalagi ditambah gerimis dan kilat. Sembari kubertanya sama bajakku yang bertandang ke rumah, keterangan bisa kuambil bahwa yang meninggal petang itu seorang perempuan berusia 50 tahunan. Ia meninggal karena sakit. Sekilas terbayang dari mana tahu mereka padahal seharian mereka hanya dirumah dalam rangka mempersiapkan perhelatan anak bajak pada 24 Agustus.
Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Terlepas dari itu, saya kembali berpikir dari mana bajak itu tahu bahwa yang meninggal itu orang lanjut usia. Saya terus berpikir-pikir mereka kok bisa tahu padahal informasi antar desa masih tergolong susah, tak ada radio komunikasi, tak ada telepon, apalagi sinyal HP yang tak menjangkau desa itu lantaran terhambat perbukitan.

Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Cari-cari tahu beberapa warga yang ada di desa tersebut, ternyata setiap bunyi memiliki maknanya dan tanda-tanda siapa yang meninggal apakah itu dewasa atau anak-anak. Setiap malam menjadi pemikiran yang panjang karena sebagai seorang jurnalis tidak puas dengan informasi dari mulut-ke mulut. Apalagi itu terkait dengan budaya tradisi warga setempat yang diwarisi oleh nenek moyang mereka sejak dulu.
Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Informasi tersebut kumatangkan lagi setelah saya baca buku “Uma Fenomena Keterkaitan Manusia Dengan Alam” yang ditulis oleh Tarida Henawati yang diterbitkan Yayasan Citra Mandiri tahun 2007. Dalam buku itu juga dijelaskan tuddukat tersebut berupa kentongan yang ukurannya cukup besar sementara bunyinya beragam mulai dari besar sampai bunyi yang kecil, ini disebabkan karena bentuk ukurannya mulai dari yang besar sampai yang kecil dan itu terdiri tiga unit kentongan.
Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Masing-masing memiliki bunyi yang bebeda sementara bentuknya yang sama.
Kentongan dari kayu yang kuat dan berkualitas tinggi untuk dijadikan alat musik, biasanya warga Mentawai kentongan itu berasal dari kayu babaet (Nephelium sp) dan rambutan hutan.
Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Sementara untuk pemukulnya terbuat dari kayu keras di antaranya manggi hutan.
Orang Mentawai sering memberikan nama masing-masing kentongannya tersebut, untuk kentongan yang besar disebut nama ina karena ukurannya yang besar, sementara yang menengah itu tetetek dan yang kecil disebut dengan toga.
Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Jika dibunyikan ketiga ketongan tersebut maka akan menimbulkan sebuah irama dan setiap irama tersebut memiliki sandi-sandi dan memiliki makna.
Setiap suku memiliki satu unit tuddukat, fungsinya jika dipukul sebagai penyampai berita dari suku yang bersangkutan.
Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Kalau suku tersebut mendapat hasil buruan seperti babi hutan, monyet, penyu atau rusa mereka akan membunyikan tuddukat tersebut dalam kurun waktu sampai satu dan dua hari tergantung jumlah hasil buruan mereka. Bunyi kentongan tersebut sangat cepat dan kadang diiringi dengan bunyi gong.

Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Bagi orang Mentawai setiap bunyi kentongan tidak akan sama jika karena setiap bunyi kentongan memiliki irama dan nada yang berbeda. Bunyi untuk memberi kabar bahwa ada orang mati tidak akan sama dengan bunyi kentongan jika kelompok suku tersebut mendapatkan hasil buruan.
Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Untuk bunyi kentongan yang mengabari orang yang mati irama tuddukat tersebut akan lambat dan bunyinya sangat memiriskan. Jika orang dewasa atau lanjut usia bunyi tuddukat akan mayoritas yang dipukul itu hanya ina tuddukat, jika remaja yang dipukul mayoritas tetetek dan jika anak kecil yang dipukul lebih cendrung pada anaknya. Dari situlah warga Mentawai mengetahui siapa yang meninggal.


Loibak Berita Kematian Warga Mentawai oleh Rus Akbar
Artikel Budaya Lain
Budaya Ladang Orang Mentawai
oleh Tarida
Jumat 19 September 2008 - 12:35:03
Al-Jum'a, 18 Ramadan 1429 H - 12:35:03
Ti'ti Mulai Ditinggalkan Siberut
oleh Bambang Sagurung
Sabtu 24 Februari 2007 - 15:53:38
As-Sabt, 6 Safar 1428 H - 15:53:38
Ikut Laki-laki atau Perempuan?
oleh Albertina Sakukuret
Jumat 22 September 2006 - 15:33:31
Al-Jum'a, 28 Sha'ban 1427 H - 15:33:31
Copyright (c) Tabloid Alternatif Puailiggoubat
Design by Djamboe WebDesign