Kordinator Divisi Pendidikan dan Budaya Berladang atau dalam bahasa Mentawai
mumone merupakan salah satu upaya yang dilakukan masyarakat Mentawai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pembukaan lahan untuk ladang biasanya dilakukan oleh beberapa keluarga yang tergabung dalam satu
uma. Tahap pertama dalam rencana pembukaan ladang adalah musyawarah di tingkat
uma. Musyawarah ini dihadiri oleh seluruh anggota uma, yaitu para tetua
uma dan anggota-angota yang lebih muda, terutama dari keluarga yang ingin membuka ladang. Musyawarah ini dipimpin oleh
sikebukkat uma (kepala
uma).
Musyawarah tersebut bertujuan untuk mendapatkan kesepakatan mengenai lokasi dan luas lahan yang akan dibuka. Setelah itu dilakukan survei lapangan untuk mengetahui hal-hal seperti areal mana yang cocok, bagaimana kesuburan tanahnya, berapa luas lahan yang akan dibuka serta batas-batasnya Survei ini bisa makan waktu dua minggu. Tahap selanjutnya musyawarah lagi. Hasil survei dibicarakan di
uma, terutama untuk memfinalkan lokasi, luas ladang dan kejelasan batas-batas lahan, sekaligus membicarakan kapan
punen pasibuluake’ atau
panaki, serta proses pembersihan semak belukar dilakukan.
Lakokaina Masyarakat Mentawai di Muntei mempercayai bahwa kawasan tertentu seperti hutan, sungai, gunung, perbukitan, hutan, laut, rawa dan sebagainya dijaga oleh mahluk halus yang disebut
lakokaina. Mereka yakin
lakokaina ini sangat berperan dalam mendatangkan, sekaligus menahan rezeki, karena itu harus dibujuk dan dihibur lewat
punen atau
lia. Untuk itulah
punen pasibuluake’ diselenggarakan. Tapi, tak seorang Mentawaipun berani menyebut nama
lakokaina, mereka takut kualat, jadi seperti kasus penyebutan nama Lord Voldemort dalam kisah petualangan Harry Potter, mereka menyebut
lakokaina dengan ‘kau tahu siapa’ eh
teteu, artinya nenek moyang atau
sateteumai (nenek moyang kami).
Punen Pasibuluakek diadakan di
uma sibakkatpolag (pemilik ladang) dan dipimpin oleh
sikebukkat uma serta dihadiri oleh semua anggota
uma, dari yang paling tua sampai yang masih bayi. Para
sinuruk (kerabat) dan tetangga dekat juga diundang untuk makan bersama.
Ayam dan babi disembelih dan dimakan ramai-ramai.
Otcai (bagian) dibagi sama rata. Tak ada yang tak mendapatkannya, bahkan jiwa semua benda di tempat tersebut juga dikasi, supaya mereka tenang dan tidak mengganggu. Terutama sekali tentu buat
teteu di puncak-puncak pohon. Mereka harus dibaik-baiki benar-benar, kalau tidak dia bisa marah dan mengubrak-abrik ladang yang akan dibuka, atau membuat semua tanaman mati tanpa sebab, atau yang lebih sadis, membiarkan tanaman tumbuh subur sehingga menimbulkan harapan di hati peladangnya, lalu membuat semua tanaman tersebut tak berbuah. Nah
Lu, sedihkan? Saat
punen pasibuluake’ dilakukan juga
punen pasaki ukkui atau ritual mengusir roh. Ini untuk mengusir roh-roh jahat yang kemungkinan mampir karena tertarik pada keramaian tersebut atau memang sudah ada di sana (lagi main gaple mungkin, he he becanda, maaf
teteu). Roh-roh jahat ini terpaksa diusir karena bisa mengacau ritual dan menghantui anak-anak serta wanita. Pelaku pengusiran atau
pasibitbit ini adalah para
kerei (dukun sekaligus tabib), sebab hanya
kerei yang bisa dan mengerti bahasa roh, jadi pengusirannya efektif. Kalau tak paham bahasanya, bisa-bisa yang terjadi malah roh-roh jahat tersebut merasa diundang. Kalau begini kan
kacau beliau acaranya.
Perlengkapan Setiap ritual ada perlengkapannya,
punen pasibuluake’ juga. Dalam
punen ini harus disediakan sepotong kain, tembakau, kertas atau daun lintingan tembakau, ranting sepanjang satu meter lengkap dengan daunnya. Kain yang digunakan cukup kain perca saja, warnanya juga boleh apa saja. Kain ini nantinya akan digantungkan di ujung ranting yang kemudian ditancapkan ke tanah di sudut ladang yang akan dibuka. Tembakau dan kertas lintingan diletakkan di bawahnya dalam keadaan terbuka. Setelah semuanya beres,
sikebukkat uma lalu membacakan mantera: ‘
Ale sateteumai, saukuimai, anaikai pananaba. Anai kusabakai leleu. Bui masisibagamai, belek butetloina, mugaugaukai senek, mulamaukai seteteumu. Belek batak pangurepkai aikok bibiletmui. Sakit pugaugaumai sakit loinak. Mugaugau kai senek peuguaka kan, tubumai lorakkan loinak’ Terjemahan bebasnya kira-kira begini: ‘ Wahai nenek moyang kami, kami mau membuka ladang, kami mau membabat hutan ini, jangan marah bila kayu ditumbangkan. Bila kami ribut, berteriak di sini dan menanam tanaman. Ini kami berikan kekayaan kami (potongan kain) sebagai pengganti kayu yang ditumbangkan, keributan dan gangguan kami di tanah ini. Oleh karena itu menjauhlah nenek moyang agar tidak tertimpa pohon tumbang’ Buset, begitu beradab dan santun kan? Mana bisa disamakan dengan pemegang HPH (hak penguasaan hutan) dan IPK (izin pemanfaatan kayu) yang main babat saja.
ran SAGU Bagi masyarakat Mentawai khususnya di Pulau Siberut, sagu yang dalam bahasa latin disebut
Metroxylon sp merupakan sejenis tanaman yang memiliki nilai penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan budaya mereka. Salah satunya, sagu yang setelah diolah menjadi tepung merupakan makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari juga pada saat pesta-pesta adat (
punen). Sejak zaman nenek moyang dahulu betapa penting atau bermanfaatnya sagu bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari sehingga tanaman ini juga dijadikan sebagai salah satu harta atau benda untuk alat pembayaran. Seperti pembayar mas kawin (
alattoga), denda adat (
tulou) dan transaksi pertukaran atau jual beli tradisional.
Tanaman sagu sebagi sumber bahan makanan pokok ini memiliki keunikan tersendiri dari jenis tanaman lain yang biasa dijadikan makanan pokok di kelompok masyarakat lain seperti padi. Keunikannya mulai dari cara penanaman, perawatan, sampai pemanenan dan pengolahannya menjadi bahan makanan. Sagu biasanya ditanam di tanah berawa dan tumbuhan berumpun ini dapat tumbuh subur di Mentawai meski ditanam secara tradisional tanpa pupuk apalagi irigasi. Hemat biaya hemat pula tenaga, begitu juga dengan perawatannya. Pemilik tanaman hanya perlu sesekali merambah tanaman semak di sekitar rumpun sagu agar tidak mengganggu pertumbuhannya. Setelah kurun waktu tertentu yang biasanya antara 8 s/d 10 tahun, sagu siap dipanen. Terasa lama memang, tetapi sistem penanaman yang tidak mengenal musim tanam
dan bisa dilakukan setiap waktu membuat ketersediaan tanaman untuk diolah menjadi bahan pangan selalu ada kapan saja dibutuhkan. Pengolahan sagu menjadi bahan pangan juga memiliki keunikan tersendiri. Tidak dikenalnya musim panen membuat sagu dapat diolah kapan saja sesuai kebutuhan. Di beberapa kelompok masyarakat di Pulau Siberut, mengolah sagu biasa dilakukan secara bergotong royong dalam satu
uma atau
clan. Bisa pula dilakukan di masing-masing rumah tangga atau keluarga inti saja. Yang pasti, semakin banyak tenaga yang terlibat semakin banyak pula jumlah sagu yang dapat diolah dan dihasilkan. Sagu biasanya diolah dalam jumlah besar untuk dijadikan stok pangan sehari-hari maupun keperluan pesta adat
(
punen). Pengolahan dengan cara tradisional baik dari peralatan maupun cara menebang, memarut sampai menghasilkan tepung
sagu, memang memakan waktu yang relative lama. Namun jika dibandingkan ketersediaan bahan pangan yang dihasilkan, masih sangat rasional untuk tetap menjadikan sagu sebagai bahan makanan pokok. Menghabiskan waktu 1 bulan mengolah sagu bisa menghasilkan persediaan pangan atau bahan makanan pokok untuk 1 tahun.
Ketika bahan pangan pokok tersedia, waktu dan perhatian dapat dialihkan untuk pekerjaan lain seperti berladang atau pemenuhan kebutuhan ekonomi lainnya. Sayangnya seiring dengan masuknya pengaruh luar, sagu semakin terpinggirkan, sagu seringkali diidentikkan dengan bahan makanan kurang gizi bahkan lambang ketertinggalan dari kelompok masyarakat lainnya yang mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Orang luar bahkan sebagian orang Mentawai sendiri seringkali memandang sebelah mata. Padahal sagu merupakan bentuk kemandirian orang Mentawai
terhadap kebutuhan pangan mereka.
(tarida)
Budaya Ladang Orang Mentawai oleh Tarida