Tabloid Puailiggoubat
Tabloid Puailiggoubat Edisi 145/Tahun VII, 15-31 Mei 2008
Polling


Apakah anda setuju HPH PT Salaki Summa Sejaterah (SSS) mengambil kayu dari Mentawai?



Setuju

Tidak Setuju



Dipublikasikan oleh Rus Akbar
Pemilih: 2299 Komentar: 18
Jajak pendapat sebelumnya

Online
Pengunjung: 2, Anggota: 0 ...

paling banyak online: 236
(Anggota: 0, Pengunjung: 236) pada 06 Jun : 01:13
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom
Username:

Password:


ingat informasi login
Budaya Ladang Orang Mentawai
Abjad Pertama Judul Tulisan
& ( A B C D E F G H I J K L M N P R S T U semuanya Daftar
09 19
Al-Jum'a, 18 Ramadan 1429 H - 12:35:03
oleh: Tarida

Kordinator Divisi Pendidikan dan Budaya

Berladang atau dalam bahasa Mentawai mumone merupakan salah satu upaya yang dilakukan masyarakat Mentawai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pembukaan lahan untuk ladang biasanya dilakukan oleh beberapa keluarga yang tergabung dalam satu uma.   Tahap pertama dalam rencana pembukaan ladang adalah musyawarah di tingkat uma. Musyawarah ini dihadiri oleh seluruh anggota uma, yaitu para tetua uma dan anggota-angota yang lebih muda, terutama dari keluarga yang ingin membuka ladang. Musyawarah ini dipimpin oleh sikebukkat uma (kepala uma).    Musyawarah tersebut bertujuan untuk mendapatkan kesepakatan mengenai lokasi dan luas lahan yang akan dibuka. Setelah itu dilakukan survei lapangan untuk mengetahui hal-hal seperti areal mana yang cocok, bagaimana kesuburan tanahnya, berapa luas lahan yang akan dibuka serta batas-batasnya Survei ini bisa makan waktu dua minggu.   Tahap selanjutnya musyawarah lagi. Hasil survei dibicarakan di uma, terutama untuk memfinalkan lokasi, luas ladang dan kejelasan batas-batas lahan, sekaligus membicarakan kapan punen pasibuluake’ atau panaki, serta proses pembersihan semak belukar dilakukan.     Lakokaina Masyarakat Mentawai di Muntei mempercayai bahwa kawasan tertentu seperti hutan, sungai, gunung, perbukitan, hutan, laut, rawa dan sebagainya dijaga oleh mahluk halus yang disebut lakokaina. Mereka yakin lakokaina ini sangat berperan dalam mendatangkan, sekaligus menahan rezeki, karena itu harus dibujuk dan dihibur lewat punen atau lia.   Untuk itulah punen pasibuluake’ diselenggarakan. Tapi, tak seorang Mentawaipun berani menyebut nama lakokaina, mereka takut kualat, jadi seperti kasus penyebutan nama Lord Voldemort dalam kisah petualangan Harry Potter, mereka menyebut lakokaina dengan ‘kau tahu siapa’ eh teteu, artinya nenek moyang atau sateteumai (nenek moyang kami).   Punen Pasibuluakek diadakan di uma sibakkatpolag (pemilik ladang) dan dipimpin oleh sikebukkat uma serta dihadiri oleh semua anggota uma, dari yang paling tua sampai yang masih bayi. Para sinuruk (kerabat) dan tetangga dekat juga diundang untuk makan bersama.  Ayam dan babi disembelih dan dimakan ramai-ramai.   Otcai (bagian) dibagi sama rata. Tak ada yang tak mendapatkannya, bahkan jiwa semua benda di tempat tersebut juga dikasi, supaya mereka tenang dan tidak mengganggu. Terutama sekali tentu buat teteu di puncak-puncak pohon. Mereka harus dibaik-baiki benar-benar, kalau tidak dia bisa marah dan mengubrak-abrik ladang yang akan dibuka, atau membuat semua tanaman mati tanpa sebab, atau yang lebih sadis, membiarkan tanaman tumbuh subur sehingga menimbulkan harapan di hati peladangnya, lalu membuat semua tanaman tersebut tak berbuah. Nah Lu, sedihkan?   Saat punen pasibuluake’ dilakukan juga punen pasaki ukkui atau ritual mengusir roh. Ini untuk mengusir roh-roh jahat yang kemungkinan mampir karena tertarik pada keramaian tersebut atau memang sudah ada di sana (lagi main gaple mungkin, he he becanda, maaf teteu).   Roh-roh jahat ini terpaksa diusir karena bisa mengacau ritual dan menghantui anak-anak serta wanita. Pelaku pengusiran atau pasibitbit ini adalah para kerei (dukun sekaligus tabib), sebab hanya kerei yang bisa dan mengerti bahasa roh, jadi pengusirannya efektif. Kalau tak paham bahasanya, bisa-bisa yang terjadi malah roh-roh jahat tersebut merasa diundang. Kalau begini kan kacau beliau acaranya.   Perlengkapan Setiap ritual ada perlengkapannya, punen pasibuluake’ juga. Dalam punen ini harus disediakan sepotong kain, tembakau, kertas atau daun lintingan tembakau, ranting sepanjang satu meter lengkap dengan daunnya. Kain yang digunakan cukup kain perca saja, warnanya juga boleh apa saja.   Kain ini nantinya akan digantungkan di ujung ranting yang kemudian ditancapkan ke tanah di sudut ladang yang akan dibuka. Tembakau dan kertas lintingan diletakkan di bawahnya dalam keadaan terbuka. Setelah semuanya beres, sikebukkat uma lalu membacakan mantera:   ‘Ale sateteumai, saukuimai, anaikai pananaba. Anai kusabakai leleu. Bui masisibagamai, belek butetloina, mugaugaukai senek, mulamaukai seteteumu. Belek batak pangurepkai aikok bibiletmui. Sakit pugaugaumai sakit loinak. Mugaugau kai senek peuguaka kan, tubumai lorakkan loinak’   Terjemahan bebasnya kira-kira begini:   ‘ Wahai nenek moyang kami, kami mau membuka ladang, kami mau membabat hutan ini, jangan marah bila kayu ditumbangkan. Bila kami ribut, berteriak di sini dan menanam tanaman. Ini kami berikan kekayaan kami (potongan kain) sebagai pengganti kayu yang ditumbangkan, keributan dan gangguan kami di tanah ini. Oleh karena itu menjauhlah nenek moyang agar tidak tertimpa pohon tumbang’   Buset, begitu beradab dan santun kan? Mana bisa disamakan dengan pemegang HPH (hak penguasaan hutan) dan IPK (izin pemanfaatan kayu) yang main babat saja. ran     SAGU   Bagi masyarakat Mentawai khususnya di Pulau Siberut, sagu yang dalam bahasa latin disebut Metroxylon sp merupakan sejenis tanaman yang memiliki nilai penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan budaya mereka.   Salah satunya, sagu yang setelah diolah menjadi tepung merupakan makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari juga pada saat pesta-pesta adat (punen). Sejak zaman nenek moyang dahulu betapa penting atau bermanfaatnya sagu bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari sehingga tanaman ini juga dijadikan sebagai salah satu harta atau benda untuk alat pembayaran. Seperti pembayar mas kawin (alattoga), denda adat (tulou) dan transaksi pertukaran atau jual beli tradisional.    Tanaman sagu sebagi sumber bahan makanan pokok ini memiliki keunikan tersendiri dari jenis tanaman lain yang biasa dijadikan makanan pokok di kelompok masyarakat lain seperti padi. Keunikannya mulai dari cara penanaman, perawatan, sampai pemanenan dan pengolahannya menjadi bahan makanan.   Sagu biasanya ditanam di tanah berawa dan tumbuhan berumpun ini dapat tumbuh subur di Mentawai meski ditanam secara tradisional tanpa pupuk apalagi irigasi. Hemat biaya hemat pula tenaga, begitu juga dengan perawatannya. Pemilik tanaman hanya perlu sesekali merambah tanaman semak di sekitar rumpun sagu agar tidak mengganggu pertumbuhannya. Setelah kurun waktu tertentu yang biasanya antara 8 s/d 10 tahun, sagu siap dipanen. Terasa lama memang, tetapi sistem penanaman yang tidak mengenal musim tanam  dan bisa dilakukan setiap waktu membuat ketersediaan tanaman untuk diolah menjadi bahan pangan selalu ada kapan saja dibutuhkan.   Pengolahan sagu menjadi bahan pangan juga memiliki keunikan tersendiri. Tidak dikenalnya musim panen membuat sagu dapat diolah kapan saja sesuai kebutuhan. Di beberapa kelompok masyarakat di Pulau Siberut, mengolah sagu biasa dilakukan secara bergotong royong dalam satu uma atau clan.   Bisa pula dilakukan di masing-masing rumah tangga atau keluarga inti saja. Yang pasti, semakin banyak tenaga yang terlibat semakin banyak pula jumlah sagu yang dapat diolah dan dihasilkan. Sagu biasanya diolah dalam jumlah besar untuk dijadikan stok pangan sehari-hari maupun keperluan pesta adat  (punen). Pengolahan dengan cara tradisional baik dari peralatan maupun cara menebang, memarut sampai menghasilkan tepung  sagu, memang memakan waktu yang relative lama.   Namun jika dibandingkan ketersediaan bahan pangan yang dihasilkan, masih sangat rasional untuk tetap menjadikan sagu sebagai bahan makanan pokok. Menghabiskan waktu 1 bulan mengolah sagu bisa menghasilkan persediaan pangan atau bahan makanan pokok untuk 1 tahun.    Ketika bahan pangan pokok tersedia, waktu dan perhatian dapat dialihkan untuk pekerjaan lain seperti berladang atau pemenuhan kebutuhan ekonomi lainnya. Sayangnya seiring dengan masuknya pengaruh luar, sagu semakin terpinggirkan, sagu seringkali diidentikkan dengan bahan makanan kurang gizi bahkan lambang ketertinggalan dari kelompok masyarakat lainnya yang mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Orang luar bahkan sebagian orang Mentawai sendiri seringkali memandang sebelah mata. Padahal sagu merupakan bentuk kemandirian orang Mentawai  terhadap kebutuhan pangan mereka.  (tarida)

Budaya Ladang Orang Mentawai oleh Tarida
Artikel Budaya Lain
Loibak Berita Kematian Warga Mentawai
oleh Rus Akbar
Jumat 19 September 2008 - 21:27:27
Al-Jum'a, 18 Ramadan 1429 H - 21:27:27
Ti'ti Mulai Ditinggalkan Siberut
oleh Bambang Sagurung
Sabtu 24 Februari 2007 - 15:53:38
As-Sabt, 6 Safar 1428 H - 15:53:38
Ikut Laki-laki atau Perempuan?
oleh Albertina Sakukuret
Jumat 22 September 2006 - 15:33:31
Al-Jum'a, 28 Sha'ban 1427 H - 15:33:31
Copyright (c) Tabloid Alternatif Puailiggoubat
Design by Djamboe WebDesign