Senja yang berkabut dibalut angin bukit sore itu di tenda Si Bajak, membuat suasana dingin mencekam, entah….
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari SaleleubajaApakah karena masih trauma karena kejadian bencana atau memang suasana tempat pengungsian yang kumuh penuh sesak. Seng dan papan bekas berserakkan di sana- sini, anak balita menangis melengking seakan ingin berpacu dengan suara jengkrik di senja itu.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Tak…tak…†suara palu Si Bajak yang tengah membenahi bagian pondoknya yang belum rampung, peluh mengucur dari pori-pori tubuhnya.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Sore…Jak, pondoknya belum selesai, ya? “ tanya Ucok menyembulkan kepalanya di sisi kiri pondok.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“He…kamu Cok, betul aku lagi betulkan pondok ini, habis semalam ketika hujan turun tidak nyaman tidurnya karena tersiram,“ jawab Si Bajak.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Bukan hanya Si Bajak, aku juga mengalami yang serupa, semalam pondokku terendam air habis lantainya hanya dari daun, istriku marah-marah karena tak bisa tidur semalaman,“ balas Ucok.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Cok aku dengar anak di pengungsian sebelah Utara ada yang meninggal, ya?“ tanya Si Bajak.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Benar Jak, ya mau bilang apa lagi obat-obatan kurang ditambah lagi yang mengobati ikut kurang, “ jawab Ucok.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Wah…gawat betul kalau begitu, masa tenaga pengobat kurang? Atau banyak yang tidak berada di tempat?“ tanya Si Bajak sambil menyisipkan palu di ikat pinggangnya.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Alasannya banyak yang lagi belajar keluar habis tenaga yang direkrut kurang berilmu, biasalah…proyek perekrutan para pegawai amburadul, istilah canggihnya pegawai yang diterima hasil dari amplop,“ jawab Ucok seenaknya.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Betul juga kata kau itu Cok, “ jawab Si Bajak membenarkan pernyataan Si Ucok.
“Anehnya lagi Cok, posko yang mengurus bencana di kabupaten baru dibuat satu minggu setelah bencana, kemudian bantuan makanan yang dikirim kepada kita terpaksa dijual beberapa untuk upah pengiriman karena tak ada uang dari pemerintah,“ kata Si Bajak.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Gila benar kalau begitu…masa uang pemerintah tidak ada,“ kata Ucok. “Kemudian data jumlah kerusakan dan korban bencana ini tak jelas, sepertinya sengaja dibengkakkan dari keadaan yang aslinya,“ kata Si Bajak.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Aku juga dengar hal itu, tetapi aku tidak heran kita lihat positifnya saja, ya…agar bantuan kita lebih banyak itu salah satunya dan negatifnya biar kantong-kantong cepat penuh he…he… †kata Ucok mengeluarkan analisa situasi ke depan dengan gaya meledek.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari SaleleubajaMalam sudah beranjak pekat, obor dan lampu teplok di pengungsian mulai ramai mengisi malam dingin itu bak peradaban baru akan dimulai di tempat itu.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Aku sangat cemas kalau kita lama di tempat pengungsian ini penyakit semakin menjamur karena tak ada kejelasan sampai kapan bencana ini berakhir,†kata Si Bajak.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja“Penyakit korupsi bantuan juga akan tambah menjamur,“ kata Ucok menyulut sebatang rokok lalu meninggalkan pondok Si Bajak.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari SaleleubajaSi Bajak yang tak sempat mandi hanya mengangguk sambil melap sisa-sisa peluh ditubuhnya. Suasana malam itu di bukit tempat Si Bajak menghindar dari bencana mulai sunyi seiring terlenanya para pengungsi di tikar-tikar pandan yang dihibur suara nakal nyamuk pembawa penyakit malaria.
Mulai Menjamur oleh Gerson Merari Saleleubaja