Dahulu kala ada suatu suku "Sabuilukkungan" yang menetap di daerah antara Saibi dengan Simpungan, Pulau Siberut. Suku tersebut terkenal karena kekompakkan mereka. Apa yang mereka rencanakan pasti berhasil.Suku itu terdiri dari beberapa keluarga yang masih muda. Di antara mereka ada seorang janda tua yang merupakan bibi mereka.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyPada suatu hari suku tersebut mengadakan musyawarah untuk merencanakan membangun sebuah "Uma" tempat mereka berkumpul, berpesta dan sebagainya. Mendengar rencana mereka itu, janda tua itu berkata.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon Sabailatty"Anak-anakku, merencanakan sesuatu tidak gampang, terlebih dahulu harus punya persiapan yang matang, mempunyai keyakinan, apalagi bersaing dengan suku lain yang cukup paham tentang sesuatu yang dianggap paling penting, untuk merencanakan membangun sebuah "Uma" banyak sekali pantangannya. Mulai dari mempersiapkan bahan-bahan sampai pestanya," katanya.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon Sabailatty"Pantangannya adalah tidak boleh "berhubungan" suami istri, memakan belut, mengikat "kuda-kuda" harus betul, atap tidak boleh terbalik memasangnya, dan kalau ada atap yang jatuh sedang memasang, itu tidak usah dipakai, saya khawatir dengan kalian karena kalian masih muda muda," tambahnya.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattySetelah itu mereka menyusun rencana, membagi tugas untuk mempersiapkan bahan-bahan. Setelah siap mereka mendirikan sebuah rumah besar yang disebut Uma. Kemudian dua buah rumah lagi yang bentuknya sederhana yang disebut "rusuk". Dalam waktu tidak begitu lama, tiga buah rumah selesai dibangun. Suku-suku lain merasa kagum atas kekompakan mereka. Tetapi dibalik itu ternyata terdapat kesalahan atau pelanggaran yang mereka lakukan. Mereka melakukan pekerja tidak sesuai dengan yang dipesankan janda tua itu.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyKetika mereka berkumpul untuk merencanakan pesta yang disebut "Gurut Uma" seekor kunang-kunang terbang memasuki ruangan dan hinggap di salah satu atap yang menandakan bahwa atap itu salah pasang atau terbalik.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyEsok harinya mereka periksa ternyata benar atap itu terbalik, tetapi mereka biarkan saja, karena sulit dibongkar. Kemudian di dalam keranjang (opa) yang disimpan di atas rak, tempat meletakkan barang-barang yang disebut "batik" ditemukan seekor ular berbisa. Itu menandakan ada bahaya yang disebut juga "palit". Sebenarnya itu adalah penangkal, tetapi karena mereka tidak mau bertanya kepada orang-orang tua yang sudah berpengalaman, maka mereka biarkan saja.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattySetelah mereka semua siap lalu diadakan pesta. Semua famili diundang untuk makan bersama. Di depan rumah mereka didirikan "bagunan" terbuat dari bambu besar yang dihiasi bunga-bunga dan banyaknya sesuai banyak babi yang disembelih.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattySelesai pesta mereka pergi Urou rou (berburu) untuk mengisi "abak manang" yang telah disiapkan (tempat meletakkan/menggantungkan tengkorak-tengkorak buruan).
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattySetelah mereka pulang dari Urou rou beberapa hari kemudian mereka pergi ke laut mencari ikan. Yang tidak ikut hanya anak-anak, janda tua, dan seorang ibu yang baru melahirkan.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyDi saat si ibu sedang memandikan anaknya di sungai yang disebut "Unem Nem", anak-anak sedang bermain main di halaman. Mereka memberikan "kabit" (pakaian) kepada seekor anjing dan dipasang bunga-bunga sambil tertawa.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyKetika itu secara tiba-tiba tiga buah rumah itu disambar petir dan langsung berubah menjadi batu. Janda tua menjadi seekor ular, ibu yang sedang mandi menjadi kodok, anak-anak menjadi kelelawar. Babi-babi mereka berlari masuk laut dan menjelma menjadi lumba-lumba.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyKetika para lelaki yang mencari ikan di laut kembali ke rumah, mereka terkejut dan kebingungan.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon Sabailatty"Apakah kita ini kesasar? Di mana rumah kita sebenarnya?" kata salah seorang dari mereka.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyTiba-tiba terdengar suara ibu di tepi air yang telah berubah menjadi kodok.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon Sabailatty"Kalian tidak usah bingung, inilah rumah kita, telah berubah menjadi batu dan sebuah gua, terjadi semuanya ini akibat ulah anak-anak dan kesombongan kita terhadap orang tua yang lebih berpengalaman," kata kodok itu. Maka kodok jelmaan itu menceritakan apa yang terjadi.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon Sabailatty"Ini merupakan petunjuk bagi kalian selama hidup, aku sudah menjadi seekor kodok dan kalian bisa memakanku, carilah aku pada malam hari di musim kemarau di dalam gua itu berisi ratusan ekor kelelawar dan mereka juga bisa dimakan, tetapi kalau kalian mau masuk gua, di depan gua berikan semacam sajian untuk roh penjaga gua ini dan apabila kalian melihat seekor ular besar di dalam gua ini, berikanlah untuknya seekor kelelawar, ia akan menghilang," kata kodok jelmaan itu.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattySetelah ia berpesan, kodok itu melompat ke dalam air, lalu menghilang. Lelaki-lelaki itu tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya menangis dan duduk di depan gua. Beberapa saat kemudian mereka pulang mencari tempat penginapan mereka, menompang di rumah orang.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyTak lama kemudian mereka mendatangi gua itu lagi, mencoba masuk dan menangkap ratusan ekor kelelawar untuk mereka jual, penukar alat-alat kebutuhan mereka. Tetapi tidak ada yang mau membeli kelelawar itu, karena kelelawar itu berasal dari manusia.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyKemudian ada seorang duda yang bernama Aman Sailuket ia mencoba memakan satu ekor. Ternyata enak dan akhirnya ia mau membeli semuanya. Bahkan ia ingin membeli guanya sekalian. Suku Sabuilukkungan menyetujui. Dan meminta seperti babi, ayam, dan sebagainya untuk penukar gua itu.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyMaka suku lain mendengar bahwa kelelawar itu cukup enak rasanya dan tiga orang dari suku itu pergi ke gua untuk menangkap kelelawar, langsung masuk gua tanpa mengindahkan syarat-syaratnya. Dua orang masuk gua dan satu orang menjaga di luar. Beberapa saat kemudian orang yang di dalam gua hendak keluar karena kelelawar yang mereka tangkap sudah cukup banyak, ternyata pintu gua tertutup sendiri. Mereka jadi bingung dan takut.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattySeorang yang di luar pergi memanggil "Sikerei" yang punya gua itu untuk meminta kepada roh penjaga gua itu agar pintu dapat terbuka kembali. Sikerei itu segera datang dan membawa kain, manik, tembakau, dan bunga-bunga sebagai sajian dan persembahan mereka kepada roh penghuni gua itu. Mereka mengadakan upacara sebagai upacara doa Sikerei.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyKetika itu pintu gua mulai terbuka secara pelan-pelan. Tetapi satu orang dari dalam gua memaksa keluar dan lolos sebelum pintu gua itu terbuka lebar.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyAkhirnya pintu gua tertutup kembali. Satu orang lagi tinggal di dalam gua. Sikerei berusaha mengulang kembali doanya. Pintu gua hanya terbuka sedikit saja, pas masuk tangan. Mereka pulang semua, hanya saudaranya menjaga di situ memberi makan dan minum. Dan akhirnya orang yang dalam gua itu menjelma menjadi kelelawar.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattySaudaranya yang menunggu terpaksa pulang ke rumah. Tapi orang yang terkurung menitipkan kepada mereka "tuddak" (kalung yang biasa dipakai Sikerei) untuk anak-anaknya.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon SabailattyMaka sampai saat ini orang Mentawai masih meyakini adanya roh penjaga hutan, gua, laut, kayu-kayu besar dan sebagainya yang dianggap angker. Karena itu di tempat-tempat tersebut mereka selalu memberikan semacam sajian berupa sobekan kain, tembakau, atau rokok jika tempat itu hendak dilalui atau dimasuki.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon Sabailatty
Naskah ini sebelumnya adalah naskah peserta Lomba Penulisan Cerita Rakyat Mentawai (Pumumuan) Kategori Umum. Ditulis oleh Filemon Sabailatty, Desa Muntei, Siberut Selatan.
Sejarah Gua Sipukpuk oleh Filemon Sabailatty