Pemimpim Umum Tabloid Puailiggoubat"Sarapan Cok, ini kusisakan beberapa untukmu.." kata Si Bajak pada suatu pagi begitu melihat Ucok melangkah mendekatinya.
“Wah mantap kaaali…. kapurut (sagu) sarapannya, kopi kental minumannya…” komentar Ucok begitu melihat kapurut di depan Si Bajak.“Kalau kopi…. kamu bikin sendiri sana ke belakang, mumpung masih ada air panas,” kata Si Bajak.
Tak lama Si Ucok sudah duduk di depan Si Bajak dengan segelas kopi dengan asap yang masih mengepul.
“Hm…. uuuenak tenan……!” celetuk Ucok begitu menggigit kapurut yang sudah dicelup dalam kopi panas.
“Jak, kenapa ya orang Mentawai suka makan makanan yang dibuat dari sagu?” tanya Ucok disela ngunyah kapurut.
“Ha…ha… kamu ini lucu Cok, kalau tidak sagu mau makan apa? Mau makan roti keju disini tidak ada pabriknya, mau makan nasi juga tidak ada yang menanam padi….”
“Siapa bilang di Mentawai tidak ada yang menanam padi. Di Sipora sudah ada yang panen padi, dan Pemda Mentawai juga ada program pembukaan sawah untuk masyarakat,” kata Ucok memotong.
“Kalau itu aku juga sudah dengar Cok, tapi itu kan baru sekarang-sekarang saja dan berapalah lahan yang bisa dibuka untuk sawah, sawah yang perlu banyak air pada saatnya juga akan menimbulkan masalah, coba perhatikan pada musim kemarau, jangankan untuk mengairi sawah, air untuk minum saja sudah sudah sulit didapat,” kata Si Bajak.
“Tapi Jak, kalau dipikir-pikir beruntung juga ya jadi orang Mentawai yang tidak tergantung dengan beras sebagai makanan pokok, coba kalau semua orang di sini tergantung dengan beras, bisa terjadi musibah kelaparan saat ini,” kata Ucok.
“Lho… memangnya kenapa Cok, kok sampai kata musibah kamu sebut-sebut…?” tanya Si Bajak.
“Wah…. dasar pecandu sagu, saat ini harga beras kan selangit mahalnya dan kabarnya di tanah tepi sana banyak orang terpekik gara-gara harga beras mahal saat ini…” jelas Ucok.
“Wah kalau begitu kejadiannya, bisa-bisa ada beberapa saudara kita yang kesulitan makan saat ini, karena sudah banyak diantara mereka sudah menganti makanan pokoknya dengan nasi,” kata Bajak
“Betul Jak, apalagi dibeberapa kampung ada masyarakat yang sudah menebang sagu mereka dan diganti dengan tanaman coklat, untuk kasus yang ini, tentu mereka lebih sulit lagi, mau beli beras harganya mahal, mau menyagu ladang sagu sudah berubah jadi ladang coklat,” kata Ucok.
“Bisa jadi Cok, menurutku ini pelajaran penting, kita jangan sampai melepas yang sudah ada dengan mengganti yang belum pasti. Mengharap uang hasil menjual coklat (yang belum jelas kapan) untuk beli beras, sagu yang menjadi sumber makanan pokok sudah keburu habis di tebang,” kata Si Bajak.
Beras dan Sagu oleh Rahmadi
Beras dan Sagu oleh Rahmadi