Pemerhati Masalah KemasyarakatanSebenarnya, pemandangan kesibukan buruh di pelabuhan Muara (Padang) untuk bongkar-muat merupakan hal yang lumrah saja. Mungkin, karena itulah dianggap sebagai suatu rutinitas kehidupan dan tidak ada sesuatu yang perlu dianalisa. Saya berpandangan lain.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoKhusus pada Senin, 4 Desember 2006, sore, kebetulan saya mempunyai suatu urusan titipan surat ke Pokai (Siberut Utara). Kala itu, saya melihat banyaknya barang yang sedang dimasukkan ke dalam ‘perut’ kapal Sumber Rezeki Baru, dengan tujuan Muara Siberut dan Muara Sikabaluan. Berbagai jenis barang dimuat, mulai dari sembilan bahan pokok (sembako), hingga alat penyuling minyak nilam yang terakhir masuk sesaat kapal akan bertolak.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoDari pengamatan tersebut, saya berkesimpulan bahwa kebutuhan masyarakat Kepulauan Mentawai, mulai dari ujung utara (Kecamatan Siberut Utara) hingga ujung selatan (Kecamatan Pagai Utara Selatan) amat tergantung pada pasokan dari Padang. Mulai dari beras, tepung, gula, minyak goreng, hingga tempat tidur yang mewah dibeli di Padang.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoBegitupun dengan berbagai alat elektronik, bahan bangunan, bahkan air minum dalam kemasan berbagai merek ‘diimpor’ dari Padang.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoLewat pemandangan rutin seperti itu, dalam pikiran saya tersimpul bahwa masyarakat Ke-pulauan Mentawai adalah segmen pemasaran yang potensial. Sebagai konsumen, masyarakat Mentawai membeli berbagai keperluan yang menjadi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan bersifat primer, sekunder, maupun tersier (demikian dikenal pembagian kebutuhan manusia menurut ilmu ekonomi). Mentawai adalah lahan garapan yang besar bagi para pedagang eceran maupun grosir, baik pemain lama maupun pendatang baru.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoSeandainya, sekali pengiriman barang-barang tersebut bernilai sekitar dua ratus juta rupiah; maka nilai transaksi perekonomian tersebut dalam satu bulan menjadi sekitar satu miliar rupiah. Itu baru muatan yang dibawa ke Pulau Siberut.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoDiasumsikan, nilai setara untuk pengiriman ke Sipora dan Sikakap; maka dalam satu bulan berlangsung transaksi bisnis sebesar Rp3 miliar, atau Rp36 miliar dalam satu tahun. Semuanya masih bersifat asumsi, kecuali kalau didapat data dari pihak pelabuhan Muara.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoHarus Disediakan
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoDapat dibayangkan jumlah uang yang mesti dibayar masyarakat Mentawai agar kebu-tuhannya dapat terpenuhi, dalam jangka waktu satu bulan ataupun dua belas bulan. Di sisi pengeluaran masyarakat setempat, maka uang senilai Rp3 miliar sebulan harus disediakan agar kebutuhannya da-pat terpenuhi. Harus tersedia uang sebanyak itu agar tidak terjadi ‘besar pasak dari pada tiang’, artinya besar belanja daripada pendapatan.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoTerlepas dari hitung-hitungan ekonomi yang cukup rumit tersebut, penulis melihat dari sisi lain, yakni bagaimana kebutuhan hidup tersebut terpenuhi melalui pendapatan yang dimiliki.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoArtinya, masyarakat Mentawai tidak hanya berposisi sebagai konsumen alias penikmat belaka atas semua produk dari luar, tapi juga mampu berposisi sebagai produsen. Dalam ilmu ekonomi, tiap individu mempunyai dua posisi tersebut. Masalahnya, bagaimana dengan masyarakat Mentawai?
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoSaya yakin, masyarakat Mentawai yang ada di tepi pantai, terutama di ibukota kecamatan mampu melaksanakan dua peran, sebagai produsen dan konsumen. Tapi, bagaimana dengan masyarakat Mentawai yang masih berada di pedalaman?
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoSaya yakin, sebagaimana di tempat lain pun, masyarakat yang masih sangat sederhana kehidupannya tidak mempunyai tingkat kebutuhan yang sama dengan masyarakat yang lebih maju. Alam telah menyediakan untuk digunakan. Namun, dengan melihat perkembangan masyarakat ke arah modernisasi, saya melihat masyarakat pedalaman pun perlahan tapi pasti mulai menjadi konsumen dari produk yang dibawa dari luar Mentawai, khususnya dari Padang.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoMenjadi konsumen, jelaslah suatu posisi mudah untuk ditempati orang Mentawai. Tak heran, tatkala perusahaan yang memegang hak pengelolaan hutan (HPH) masih ada, setumpuk uang kompensasi bakal segera ludes, tandas, habis untuk membeli berbagai keperluan yang belum tentu dibutuhkan. Khusus untuk satu hal ini, saya melihat hampir sebagian besar warga belum mempunyai kebiasaan menabung (mungkin karena bank belum ada). Saya yakin pula, tatkala musim cengkeh berbuah di awal Januari 2007, banyak orang Mentawai menjadi OKB (orang kaya baru) mendadak, tetapi dalam posisi sebagai konsumen.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoTerbuang Mubazir
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoKembali pada persoalan menjadi produsen, penulis sempat mendengar kisah unik sehubung-an dengan minyak goreng. Ceritanya, di Kepulauan Mentawai banyak terdapat pohon kelapa sebagai bahan mentah untuk minyak goreng. Namun, seberapalah warga yang mampu membuat minyak goreng dari kelapa. Akhirnya, kelapa dijual ke Padang dengan harga yang rendah untuk dibawa ke Padang. Sesampai di Padang, minyak kelapa diolah dan akhirnya dijual kembali ke Mentawai dengan harga yang lebih tinggi. Di Mentawai, warga menjual kelapa untuk mendapatkan minyak kelapa yang telah diolah tersebut. Suatu ironi memang, tapi itulah kenyataannya.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoDari kisah singkat tersebut, penulis merefleksikan bahwa untuk menjadi produsen atau mampu memberikan ‘nilai tambah’, ataupun ‘nilai lebih’ di Mentawai belum menjadi suatu prioritas. Padahal, di Mentawai banyak bahan mentah yang dapat diolah, entah pisang, sukun, keladi, sagu, kelapa sehingga lebih bernilai ekonomis. Sebab itu, tak heran bila pada suatu musim tertentu, banyak bahan mentah yang ada di Mentawai terbuang begitu saja, mubazir, menjadi makanan babi, dan sejenisnya. Kalaupun ada pengolahan, masih di tingkat konvensional dan tradisional.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoLewat tulisan sederhana yang singkat ini, penulis mengajak semua pihak, mulai dari kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM), pecinta Mentawai, kalangan lembaga keagamaan yang ada, hingga pemerintah untuk turut mencari upaya pemberdayaan hasil alam dan pemberdayaan sumber daya manusia Mentawai. Mungkin, tulisan ini cocok dialamatkan ke dinas-dinas yang ada dalam koridor ekonomi, keuangan, dan industri (ekuin). Dalam pikiran saya, hingga saat ini ketika naskah ini ditulis, terjadi ketidakse-imbangan neraca perdagangan antara Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan Kota Padang.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoSebab itu, setiap kali pengiriman barang kebutuhan hidup sehari-hari dari Padang, saya selalu berpikir keuntungan yang berhasil diraup oleh kota ini. Sementara di sisi lain, jumlah uang setara itu yang mesti dikeluarkan masyarakat Mentawai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Surplus perdagangan bagi Padang, defisit bagi Mentawai. Kalau dalam pertandingan olahraga, Padang lawan Mentawai bernilai satu kosong.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoSalah satu solusi yang mungkin dapat meningkatkan nilai tambah bahan mentah di Mentawai adalah dengan mendatangkan investor. Bila selama ini cukup banyak investor, penanam modal di bidang pariwisata, mungkin dapat diberikan kemudahan tertentu bagi investor yang bergerak di bidang manufaktur dan perindustrian, semisal keringanan retribusi daerah, kemudahan perizinan, dan sebagainya.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh HardigowontoMudah-mudahan, kelak, masyarakat Mentawai tidak hanya mampu sebagai konsumen atau penikmat, tapi juga mampu ‘mengekspor’ produknya ke luar daerah dalam kondisi bernilai tambah. Keladi, manau, pisang, sagu, kelapa, kayu, dan sebagainya tidak dalam keadaan mentah. Nilai tambah tersebut akan menyejahterakan masyarakat Mentawai, karena tercipta sejumlah lapangan kerja yang mengolah nilai tambah itu.
Raih Nilai Tambah Berdayakan Alam dan Manusia Mentawai oleh Hardigowonto