Aktivitas belajar mengajar sudah dimulai dalam pekan ini. Meskipun telah memasuki tahun ajaran 2006-2007, namun masalah Ujian Nasional (UN) masih tersisa dan tetap relevan sebagai wacana dalam dunia pendidikan.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang Secara psikologis, terutama bagi siswa yang gagal UN, mereka akan mengalami stres-depresif yang hebat. Boleh jadi siswa-siswi yang tidak lulus merupakan pengalaman traumatik. Apalagi jika kegagalan itu menimpa siswa yang memiliki segudang prestasi yang telah diraih, atau bagi peserta didik yang mendapat juara dengan predikat cum laude pada ulangan atau ujian semester, misalnya.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang Lain cerita kalau kegagalan UN menimpa siswa yang memang kurang mampu secara akademik-edukatif. Agak mudah dimaklumi jika siswa gagal UN karena memang siswa tersebut secara kognitif kurang. Kalau itu yang terjadi maka berlaku slogan klasik “rajin (belajar) pangkal pandai, lulusâ€Semua peserta didik akan terpacu untuk rajin, tekun dan serius belajar supaya lulus atau sukses ujian. Malas belajar bakal tidak lulus, gagal. Itu logis. Semboyan sederhana: ulet belajar pasti lulus. Hemat saya, secara emosional semboyan itu akan sangat membantu siswa agar termotivasi dalam belajar.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang Namun, tidak sedikit siswa kita yang lulus padahal nilai ujian harian anjlok. Menjadi aneh, ada siswa yang telah diprediksi oleh gurunya ‘pasti’ tidak lulus, karena guru jauh lebih tahu kemampuan siswa bersangkutan, tapi ia lulus UN bahkan mendapat nilai tinggi daripada temantemannya.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang [Ketika penulis sebagai guru di SMA Xaverius Curup-Bengkulu, seorang siswa secara kognitif-afektif-psikomotorik mendapat nilai kurang memuaskan bahkan gagal. Tapi, UN yang lalu ia mendapat nilai Bahasa Inggris 9,43. Luar biasa. Semua gurunya heran.
Teman-teman seperjuangannya bengong. Ia sendiri kaget, aneh, kok bisa ya! Baginya, nilai Bahasa Inggris 9,43 itu ibarat mimpi di siang bolong. Sesuatu yang mustahil tapi nyata. Ia sadar tidak mungkin ia mendapat nilai sebagus itu, bahkan ia mendapat nilai Bahasa Inggris yang tertinggi dibandingkan dengan teman-temannya. Padahal, ia menyadari sesungguhnya pemahamannya terhadap bahasa asing itu sangat kurang.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang Gambaran sekilas itu, secara alambawah-sadar bagi adik-adik kelasnya, terpola pikiran berikut: malas belajar, kurang pandai, tidak buat tugas atau PR, sering bolos, tidak aktif dalam pembelajaran, sering keluar ruang ketika proses belajar mengajar berlangsung, tidak masuk sekolah dengan alasan yang irasional, toh akhirnya mereka lulus dalam UN.
Lihatlah, adik-adik kelas beranggapan sekaligus menilai, banyak kakak kelas yang terkenal pandai, cerdas, ulet, selalu juara di kelas, aktif, rajin belajar, les privat mahal-mahal toh mereka tidak lulus. Mentalitas skeptis belajar itulah lambat laun akan tercipta dalam diri anak didik. Bagi saya, rumusan itu termasuk dalam argumentasi logis terbalik.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang ‘Hiburan’ Edukatif
Argumentasi prokontra seputar UN bukanlah esensial tulisan ini. Di sini hendak mengedepankan bahwa kegagalan UN tidak berarti bodoh. Ketidaklulusan UN jangan dianggap tidak pandai. Kegagalan yang dialami sebagian peserta didik justru memiliki potensi cemerlang yang kebetulan tidak diuji secara nasional. Maka bagi yang gagal janganlah berkecil hati. Peluang dan kesempatan terbuka lebar bagi kita. Hal itu sejalan dengan gagasan yang dituangkan dalam Multiple Intelligences buku karya Howard Gardner. Anggaplah ini semacam tawaran penyejuk yang membangun dalam dunia edukasi-pedagogik.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang UN adalah bentuk ujian untuk mengukur tingkat kemampuan anak hanya dari sisi kognitif, pemahaman nalar, itupun bentuk tesnya multiple choice dengan empat/lima option. Instrumen tes dalam bentuk pilihan ganda tak akan mampu menggali potensi siswa sesungguhnya. Instrumen pilihan ganda hanya menggali sisi permukaan kognitif dangkal yakni ingatan, pemahaman, dan penerapan. Sisi-sisi psikomotorik dan afeksinya? Padahal kita tahu masih banyak cara untuk mengetahui tingkat kecerdasan siswa, misalnya dengan uraian atau essay test. Ujian bentuk uraian ini sangat membantu untuk mencegah spekulasi, mengetahui tingkat kedalaman atau pemahaman siswa.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang Terhadap realita tersebut, Multiple Intelligences buku garapan Howard Gardner menegaskan bahwa skala kecerdasan yang dipakai selama ini memiliki banyak keterbatasan. Gardner mau membuka cakrawala pemikiran para orangtua dan guru bahwa ada bidang-bidang yang diminati dan mendapat nilai tinggi oleh anak didik. UN dengan tiga mata pelajaran yang diujikan sebetulnya hanya sebagian kecil dari wilayah yang diminati tersebut. Maka kegagalan dalam UN bukanlah penilaian definitif yang melahirkan individu yang psimistis-skeptis tapi sebaliknya menjadi pribadi yang optimistis, penuh daya juang dalam menatap masa depannya.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang Gardner berpendapat kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika-logika, kecerdasan bahasa, musikal, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan naturalis.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang Kecerdasan matematika-logika biasanya orang yang termasuk dalam kategori ini mampu berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, menyenangi kegiatan menganalisis dan berpikir konseptual, misalnya suka main catur, teka-teki. Kecerdasan bahasa, umumnya orang akan terlihat cerdas dalam mengekspresikan gagasan-gagasannya dengan menggunakan bahasa atau kata-kata, baik lisan maupun tertulis. Mereka suka membaca, menulis karangan, membuat puisi.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang Seseorang yang peka terhadap suara nonverbal di sekitarnya seperti nada dan irama boleh dibilang cerdas secara musikal. Senang mendengarkan irama yang indah, suka mendengarkan kaset, radio, mudah mengekspresikan ide-idenya yang berkaitan dengan musik merupakan ciri kecerdasan musikal. Sedangkan kecerdasan visual-spasial dominan dimiliki pemahat patung atau arsitek yang memiliki kemampuan mengimajinasikan antara objek dan ruang. Anak-anak unggul dalam permainan mencari jejak dalam kegiatan di kepramukaan, misalnya.
Kecerdasan kinestetik amat menonjol pada anak yang unggul dalam salah satu cabang olah raga seperti bulutangkis, berenang, atau pandai menari, trampil bermain akrobat dan bermain sulap merupakan ciri anak yang memiliki kecerdasan kinestetik yang tinggi. Lain lagi dengan kecerdasan interpersonal. Kecerdasan ini biasa dikenal dengan kecerdasan sosial. Anak-anak lebih peka, empatik dengan perasaan orang lain, menjalin relasi yang akrab dengan teman serta memiliki kemampuan istimewa dalam memimpin, mengorganisir.
Kecerdasan intrapersonal lebih peka terhadap perasaan dirinya sendiri, mengenal dengan baik kelemahan dan kelebihan dirinya. Mereka suka melakukan intropeksi diri, refleksi, suka mengoreksi diri dan selalu mencoba memperbaiki dirinya. Mereka menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung. Sedangkan kecerdasan naturalis lebih peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di pantai, gunung, cagar alam, dan hutan.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang Kiranya dengan pemahaman singkat yang ditawarkan Howard Gardner dalam Multiple Intelligences atau kecerdasan ganda ini kita terbantu untuk mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan. Tegasnya, kecerdasan tak hanya terbatas pada apa yang diukur dalam tes inteligensi yang sempit melalui ulangan atau ujian di sekolah maupun UN.
UN dan Logika Terbalik oleh Ignas Iwan Waning, Guru SMP Xaverius-Maria, Palembang