Tulisan ini sebelumnya naskah peserta Lomba Penulisan Cerita Rakyat Mentawai (Pumumuan) Pualiggoubat-YCM, 2003 Kategori UmumDahulu sekali belum ada orang Mentawai yang memasuki sungai Pasosoat yang diterletak di Pulau Sipora, kecuali sungai Bosua sudah dimasuki orang dan ada yang menetap di pinggirnya.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Kelompok Keluarga Makkakak, suku Taikatubut Oinan, sampai di muara sungai Pasosoat dalam perjalan bersampan untuk mencari tempat baru. Tak ada tanda-tanda di sekitar sungai itu ada orang yang menetap sebelum mereka, karena itu mereka menepi di muara sungai itu. Muara sungai Pasosoat berpasir dan tepi-tepinya sangat memuaskan untuk tempat tinggal. Maka mereka turun dan mendirikan pondok-pondok mereka kalaplap, tapat di muara dua batang sungai, itu sebabnya mereka namakan Pasosoat.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Selesai membuat pondok mereka mengadakan pesta pendirian pondok baru. Saat itu tetua mereka mengucapkan janji pada roh-roh penghuni hutan dan sungai Pasosoat.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.“Para Ukkuimai yang mendiami rimba dan sungai ini supaya kurban persembahan kami ini, hati ayam, diterima hendaknya, tapi bila selesai membangun uma yang sebenarnya maka barulah kami akan persembahkan kurban kami, hati babi besar untuk kita semua, oleh karena itu terimalah serta lindungilah kami dari segala marabahaya yang hendak mencelakakan kami,†kata tetua mereka.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Selesai menyelenggarakan pesta pendirian pondok baru mereka sudah bebas bepergian mencari binatang buruan ke rimba dan mencari ikan ke sungai dan laut. Setelah hidup beberapa bulan lamanya di sana, maka kelompok suku Samaloisa yang menetap di pinggir sungai Bosua mengetahui kalau ada kelompok Makkakak di sungai Pasosoat. Maka mereka datang ke sana untuk minta berbagai petunjuk soal adat kebudayaan nenek moyang.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Kelompok Samaloisa mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui tentang pantangan, pelaksanaan pesta-pesta, bacaan-bacaan mantra saat persembahan kurban dalam berbagai upacara. Misalnya upacara membuka lading baru, menebang kayu besar, menebang kayu untuk sampan, memulai pesta (liajat), memandikan bayi, memulai makan, mengawinkan remaja, memasang jaring penyu, memasang jerat rusat, membuat busur baru dan tabung anak panah (bugbung), pesta rumah baru, membuat kandang babi dan ayam, dan sebagainya.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Kelompok suku Samaloisa mengetahui bahwa kelompok Makkakak pandai tentang adapt nenek moyang dan membuat ramuan-ramuan dalam pesta-pesta tersebut. Karena itulah kelompok Smaaloisa membutuhkan orang tua suku Taikatubut Oinan itu. Lagi pula pesta perkampungan mereka di Bosua itu belum dilangsungkan. Setiba di perkampungan Taikatubut Oinan, berkatalah orang tua suku Samaloisa itu kepada orang tua suku Taikatubut Oinan.“Berapa kelompok suku datang ke daerah ini?â€, “Kami hanya sekelompok saja memasuki daerah sungai ini,†jawab orang tua suku Taikatubut Oinan.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.“Apakah pesta pendirian pondok sudah selesai? “Sudah buat sementara saja, tapi bila kami sudah membangun uma barulah kami mengadakan pesta yang sebenarnya,†kata orang tua suku Taikatubut Oinan. Maka berkatalah tetua suku Samaloisa.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.“Maksud kedatangan kami ke sini sebenarnya adalah meminta kepada Saudara supaya kelompok saudara ikut dengan kelompok kami di sungai Sibosua, sebab siapa tahu dengan tiba-tiba ada kelompok lain yang suka menyerang kita di sini, kita tak mudah dikalahkan oleh mereka yang suka merusak kesenangan kelompok kita,†katanya.
“Setelah selesai kita bangun perkampungan kita, maka nanti sekaligus pesta uma dan perkampungan kita pula,†lanjutnya.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Maka dijawablah oleh tetua suku Taikatubut Oinan, “Seandainya kelompokku ikut dengan kelompok di sana, pasti pembagian tanah yang sudah dikuasai kelompokmu tidak bisa kami gunakan untuk ladang kami, sebab hak tanah kami hanya di sini saja.â€
“Soal tanah itu soal kecil, akan kita buat perjanjian dengan kelompok kita nantinya, sebab perjanjian itu bukannya untuk kita-kita saja, tetapi untuk keturunan kita selanjutnya,†kata orang tua suku Samaloisa.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Lalu suku Taikatubut Oinan meminta supaya dikatakannya cara bagaimana perjanjian itu nantinya. Maka Tetua suku Samaloisa menjelaskan cara pembagian tanah.
“Mulai dari muara Sungai Sibosua sampai ke hulunya, termasuk gunung dan rimbanya, sebelah untuk suku Samaloisa dan di sebelahnya untuk suku Taikatubut Oinan,†katanya.
Ia melanjutkan, “Sebab kami membutuhkan kepandaian Saudara itu tentang segala-galanya menjalankan pesta serta bahan-bahan yang diperlukan, perlengkapan pesta dan peraturannya beserta ramuan-ramuan dan mantranya.â€
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Mendengar janji tersebut lupalah tetua Suku Taikatubut Oinan untuk melanjutkan acara persembahan kurban kepada roh-roh penghuni gunung dan Sungai Pasosoat yang dijanjikan waktu itu, yaitu mempersembahkan hati ayam dulu pada pesta pemondokan mereka, dijanjikannya untuk mempersembahan hati babi yang besar (babui) karena mendengar perjanjian pembagian tanah yang menjadi hak mereka turun-temurun.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Tanah pembagian itu jelas tidak akan dapat diganggu gugat lagi oleh Suku Samaloisa. Tapi tetua suku Taikatubut Oinan ragu, jangan-jangan janji itu nanti tidak ditepati. Melihat mereka ragu tetua suku Samaloisa menguatkan janjinya bahwa suku Makkaka yang datang akan mereka jadikan sebagai saudara kandung sendiri, artinya tidak hanya pembagian tanah saja yang dijanjikan.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Setelah tak ragu lagi maka Simakkaka mengatakan, “Tiga hari di muka kami sudah pergi ke Bosua itu.â€
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Setelah mengemasi barang-barang maka berangkatlah mereka ke hilir meninggalkan Pasosoat. Mereka langsung keluar dari muara tersebut karena ombak cukup tenang. Tapi entah kenapa disaat mereka sedang mendayung perahu, tiba-tiba datang ombak yang sangat besar. Menghantam kepala sampan mereka. Meski ombak itu besar itu hanya sekali saja, tetapi air laut masuk ke dalam sampan mereka.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Mereka segera mengeluarkan air dari dalam sampan. Mereka melihat babi yang besar yang mereka bawa terletak di dalam kandangnya (laktak) dari bamboo (manggaeak) sudah tidak ada lagi. Anehnya, kandang itu tidak terbuka, tetapi babi tersebut hilang begitu saja. Sedangkan babi yang kecil-kecil beserta beberapa ekor ayam yang juga mereka bawa masih berada di tempatnya. Setelah air di dalam sampan selesai dikuras, mereka melanjutkan perjalanan menuju Muara Bosua.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Setelah sampan mereka memasuki muara sungai, orang-orang Bosua sudah siap menyambut kedatangan mereka. Lalu mereka diajak naik ke pondok-pondok mereka. Setelah kelompok suku Taikatubut Oinan ini berada di sungai Bosua, timbullah tanda di sungai Pasosoat yang sebelumnya tidak ada. Setelah mereka meninggalkan sungai Pasosoat itu barulah tanda itu muncul.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Kelompok suku Samaloisa dan suku Taikatubut Oinan sepakat mengadakan pesta kedatangan dan bergabungnya mereka ke dalam kelompok suku Samaloisa. Lalu berpestalah mereka agar mereka menjadi satu, aman dan damai. Mereka semuanya bergembira karena bertambah ramai kampung mereka.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Orang-orang tua, baik laki-laki maupun perempuan berdandan ala pakaian pesta, menandakan kegembiraan mereka atas penggabungan dua kelompok itu. Anak-anak muda juga larut dalam kegembiraan.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Sementara, Simakakka dari Suku Taikatubut Oinan dengan seorang dari suku Samaloisa pergi mengambil dedaunan untuk ramuan-ramuan (pukiniubat) dan bahan-bahan lain untuk bulungan pemberi batas-batas perkampungan agar jangan dimasuki oleh roh-roh yang membawa malapetaka bagi penduduk kampung.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Setelah bahan yang mereka cari lengkap, maka mereka pulang ke pondok bulungan tersebut untuk mengolahnya. Selesai mengolah ramuan-ramuan, dipukullah kateubak sebagai tanda untuk berkumpul dan memulai acara pesta mereka. Orang-orang pun berdatangan ke rumah bulungan yang masih berbentuk pondok itu.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Setelah semua anggota suku berkumpul, dimulailah berlimau per keluarga, kemudian dioleskan ramuan ke badan mereka masing-masing (Pukiniubat). Sesudah mengoleskan ramuan para pemuda mengambil babi du aekor untuk korban persembahan mereka, beserta ayam-ayam untuk dimantrai oleh Makkakak agar disembelih untuk kurban pesta.
Ibu-ibu kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk mengerjakan makanan mereka.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Selesai membagi daging bapak-bapak pulang ke rumah masing-masing membawa pembagian. Seorang ibu dari Suku Taikatubut Oinan mempunyai seorang gadis pergi mengambil air dengan pakaian pesta lengkap dengan perhiasan di badannya. Ia membawa tempat air dua ruas bamboo, kebiasaan orang-orang kampung mengambil air di pancuran di dekat gunung atau lereng bukit. Dari bukit itulah air bersig diambil untuk minum dan pemasak daging mereka.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Tapi gadis tadi lenyap saja dan tak kembali lagi ke pondok. Dicari kemana-mana ia tidak ditemukan. Dalam tiga kali pencarian tidak ada tanda-tanda ia ditemukan.Berbagai cara dilakukan mencarinya, tapi gagal. Pesta penggabungan akhirnya dihentikan dan diganti dengan pesta memanggil arwah si gadis. Si Makkakak menanyakan kepada penghuni rimba dan sungai Bosua kemana anak gadis mereka dan apa yang menyebabkan ia hilang.
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Roh-roh penghuni rimba dan sungai menjawab. “Anak gadis itu tidak akan kembali lagi, dia sudah bergabung dengan kami, kami tinggal di dalam gua di dekat perkampungan, kalian sudah sering menipu kami, untuk memberi kami hati babi yang besar, kalian akan melihat tanda kalian dengan kami, sekarang ada di sungai Pasosoat yang kalian tinggalkan itu, tanda itu bisa bergerak, tetapi tidak bisa beranjak, kalian tidak boleh mengutak-atiknya, bila kalian merusaknya maka kalian tidak bisa hidup lama, tanda itu adalah perjanjian antara kami dengan kalian, artinya kalian tidak boleh mendiami tanah tersebut.â€
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.Tanda itu mirip patung penyu hijau. Bukan manusia yang membuatnya, tetapi roh penghuni rimba dan sungai Pasosoroat. Patung tersebut bisa diputar, tetapi sebentar sudah kembali menghadap ke arah kepalanya semula, meski seberapa deras air bah, tapi patung itu tidak hanyut..
Patung Penyu di Sungai Pasosoat oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.