Suatu hari seorang lelaki duda pergi memancing ke sungai. Meski sudah lama memancing, ia tidak mendapatkan seekor ikan pun. Terakhir pancingnya terkait sebuah tabung gendang. Diangkatnya tabung itu dan ditelitinya. Ia melihat di dalam tabung delapan ekor ikan yang mirip manusia. Dibawanyalah tabung berisi delapan ekor ikan itu pulang.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouSesampai di rumah ditelitinya lagi ikan itu, ternyata manusia. Maka dirawatnyalah kedelapan manusia itu seperti anaknya sendiri. Limabelas tahun kemudian anak-anak itupun beranjak dewasa. Yang tiga orang sudah mendapatkan jodoh buat mereka. Suatu hari bapak angkatnya berkata.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou“Hari ini aku tidak di rumah karena akan mencari ikan ke sungai dan kalianlah yang menjaga rumah, jika ada orang yang datang mencari api hendaklah kalian membunuh orang itu.â€
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouSelesai berpesan si Ayah berangkat pada tengah hari. Maka datanglah seorang ibu ke rumah mereka untuk meminta api. Maka anak-anak itu membunuhnya. Ternyata yang datang itu adalah adik kandung si Ayah angkat mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouKetika hari sudah sore pulanglah ayah mereka dan betapa kagetnya ia melihat perempuan yang dibunuh anak-anaknya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou“Hei anak-anak, yang kalian bunuh ini adalah adik-adikku, tante kalian, tapi kejadian ini bukan salah kalian, tetapi salahku,†katanya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouMendengar itu, anak-anak tersebut bergegas mengangkat mayat itu untuk dikuburkan. Sejak itu mereka merasa tidak tenang dan bersalah. Mereka kemudian memutuskan melarikan diri dari rumah.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouMaka mereka mengambil keputusan untuk membuat perahu. Mereka ungkaplah rencana tersebut kepada ayahnya. Pendapat itu disetujui ayah angkat mereka. Hari itu juga mereka berangkat ke hutan untuk membuat perahu. Mereka bekerja sambil menanam 8 batang pohon durian (toktug) dan 8 batang pohon duku di tempat pembuatan perahu.
Setelah perahu mereka hampir selesai, mereka berkata kepada ayahnya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou“Pak, buatkan kami delapan pendayung (ngunguirut), delapan tombak ikan yang pakai tali (panah-panah).â€
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouSi Ayah angkat segera membuatkan pesanan itu. Setelah perahu mereka siap beserta peralatan yang diminta, maka berangkatlah kedelapan anak itu. Mereka tidak lupa membawa seekor tikus dan perlengkapan lain seperti tali rotan. Lalu mereka meminta hujan, maka turunlah hujan dengan derasnya hingga sungai Rereiket meluap dan mengapungkan perahu mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouMereka langsung berangkat. Kebetulan rumah mereka terletak di hilir sungai yang akan mereka lewati. Makin lama makin dekat rumah itu, mereka bersorak.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou“Lemparkan pendayung kami, Ayah, supaya perahu ini bisa menepi!â€
Si Ayah melemparkan kedelapan pendayung itu. Setelah pendayung di tangan mereka, mereka pura-pura mendayung. Tentu saja perahu itu tidak bisa menepi.
“Tombaklah perahu kami supaya bisa merapat!†kata mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouSi Ayah segera menombak perahu itu. Tapi begitu kena tikus yang ada di perahu mereka disuruh untuk memutuskan tali. Si Ayah menombak lagi dan talil diputuskan lagi oleh tikus. Begitulah sampai tombak yang terakhir, barulah tikus itu tidak disuruh memutus, sehingga mereka bisa merapat. Karena kejadian itu mereka memberi kesan kurang enak kepada ayah angkat mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou“Hari ini kami angkat kaki dari rumah ini karena bapak menyuruh kami membunuh,†kata salah satu dari mereka.
“Kami akan kembali ke asal kami,†kata satu lagi.
“Kami akan menjadi bintang di langit,†kata yang lainnya.
“Apabila Bapak melihat kami ke arah barat yang artinya katetei langit, janganlah pergi mencari ikan di laut, sebab hari itu sangat buruk atau menimbulkan penyakit,†pesan seorang lagi.
“Jika kami berada di arah timur itu menandakan hari itu sangat baik untuk mencari ikan dan ikannya banyak,†kata yang lainnya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouSetelah berpesan maka berangkatlah mereka dengan perahu. Mereka mengikuti arus sungai Rereiket, lama-kelamaan sampailah mereka di muara sungai (kamoan oinan) dan berserulah mereka kepada perahu (kinapat) tersebut. “Hai engkau sampan, naiklah ke atas awan bersama kami,†katanya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouNaiklah mereka bersama sampan itu ke atas awan. Terdengarlah berita oleh tiga gadis pasangan mereka. Maka ketiga gadis itu segera mempersiapkan alat dan mengikuti jejak kedelapan pemuda itu.Sesampainya mereka di langit, kedelapan pemuda itu melihat mereka, maka berserulah mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou“Hei gadis-gadis janganlah kalian mengikuti kami, kami akan pergi ke daerah asal kami, inilah tali pengikat pendayung kalian,†kata mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouDilemparkannya tali tersebut. Tapi cewek-cewek itu tak menghiraukan kata-kata mereka. Mereka terus saja mengejar untuk mendapatkan ketiga pemuda idaman mereka. Setelah lama kejar-kejaran, karena gadis-gadis itu kelaparan maka para pemuda itu melemparkan makanan. Tapi kemudian gadis-gadis itu tidak bisa mengejar, maka pemuda-pemuda itu segera menyumpah ketiga gadis itu menjadi bintang. Saat itu juga mereka menjadi bintang. Makanan mereka (baklat saina’) dan tali rotan untuk pengikat pendayung juga menjadi bintang. Setelah itu kedelapan pemuda itu dengan perahu mereka pun ikut menjadi bintang.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus SamapopoupouBintang delapan mata yang berdekatan itulah kedelapan pemuda itu. Bintang yang berbaris tiga mata adalah ketika gadis yang sedang dalam sampan. Bintang yang bersegi tiga menandakan dagu babi (baklat saina’).
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou