Tabloid Puailiggoubat
Tabloid Puailiggoubat Edisi 145/Tahun VII, 15-31 Mei 2008
Polling


Apakah anda setuju HPH PT Salaki Summa Sejaterah (SSS) mengambil kayu dari Mentawai?



Setuju

Tidak Setuju



Dipublikasikan oleh Rus Akbar
Pemilih: 2299 Komentar: 18
Jajak pendapat sebelumnya

Online
Pengunjung: 2, Anggota: 0 ...

paling banyak online: 236
(Anggota: 0, Pengunjung: 236) pada 06 Jun : 01:13
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom
Username:

Password:


ingat informasi login
Sibalu Sibailiu Panyanyat
Abjad Pertama Judul Tulisan
& ( A B C D E F G H I J K L M N P R S T U semuanya Daftar
09 21
Al-Hamis, 27 Sha'ban 1427 H - 17:32:21
oleh: Donatus Samapopoupou



Suatu hari seorang lelaki duda pergi memancing ke sungai. Meski sudah lama memancing, ia tidak mendapatkan seekor ikan pun. Terakhir pancingnya terkait sebuah tabung gendang. Diangkatnya tabung itu dan ditelitinya. Ia melihat di dalam tabung delapan ekor ikan yang mirip manusia. Dibawanyalah tabung berisi delapan ekor ikan itu pulang.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Sesampai di rumah ditelitinya lagi ikan itu, ternyata manusia. Maka dirawatnyalah kedelapan manusia itu seperti anaknya sendiri. Limabelas tahun kemudian anak-anak itupun beranjak dewasa. Yang tiga orang sudah mendapatkan jodoh buat mereka. Suatu hari bapak angkatnya berkata.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
“Hari ini aku tidak di rumah karena akan mencari ikan ke sungai dan kalianlah yang menjaga rumah, jika ada orang yang datang mencari api hendaklah kalian membunuh orang itu.”
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Selesai berpesan si Ayah berangkat pada tengah hari. Maka datanglah seorang ibu ke rumah mereka untuk meminta api. Maka anak-anak itu membunuhnya. Ternyata yang datang itu adalah adik kandung si Ayah angkat mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Ketika hari sudah sore pulanglah ayah mereka dan betapa kagetnya ia melihat perempuan yang dibunuh anak-anaknya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
“Hei anak-anak, yang kalian bunuh ini adalah adik-adikku, tante kalian, tapi kejadian ini bukan salah kalian, tetapi salahku,” katanya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Mendengar itu, anak-anak tersebut bergegas mengangkat mayat itu untuk dikuburkan. Sejak itu mereka merasa tidak tenang dan bersalah. Mereka kemudian memutuskan melarikan diri dari rumah.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Maka mereka mengambil keputusan untuk membuat perahu. Mereka ungkaplah rencana tersebut kepada ayahnya. Pendapat itu disetujui ayah angkat mereka. Hari itu juga mereka berangkat ke hutan untuk membuat perahu. Mereka bekerja sambil menanam 8 batang pohon durian (toktug) dan 8 batang pohon duku di tempat pembuatan perahu.
Setelah perahu mereka hampir selesai, mereka berkata kepada ayahnya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
“Pak, buatkan kami delapan pendayung (ngunguirut), delapan tombak ikan yang pakai tali (panah-panah).”
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Si Ayah angkat segera membuatkan pesanan itu. Setelah perahu mereka siap beserta peralatan yang diminta, maka berangkatlah kedelapan anak itu. Mereka tidak lupa membawa seekor tikus dan perlengkapan lain seperti tali rotan. Lalu mereka meminta hujan, maka turunlah hujan dengan derasnya hingga sungai Rereiket meluap dan mengapungkan perahu mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Mereka langsung berangkat. Kebetulan rumah mereka terletak di hilir sungai yang akan mereka lewati. Makin lama makin dekat rumah itu, mereka bersorak.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
“Lemparkan pendayung kami, Ayah, supaya perahu ini bisa menepi!”
Si Ayah melemparkan kedelapan pendayung itu. Setelah pendayung di tangan mereka, mereka pura-pura mendayung. Tentu saja perahu itu tidak bisa menepi.
“Tombaklah perahu kami supaya bisa merapat!” kata mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Si Ayah segera menombak perahu itu. Tapi begitu kena tikus yang ada di perahu mereka disuruh untuk memutuskan tali. Si Ayah menombak lagi dan talil diputuskan lagi oleh tikus. Begitulah sampai tombak yang terakhir, barulah tikus itu tidak disuruh memutus, sehingga mereka bisa merapat. Karena kejadian itu mereka memberi kesan kurang enak kepada ayah angkat mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
“Hari ini kami angkat kaki dari rumah ini karena bapak menyuruh kami membunuh,” kata salah satu dari mereka.
“Kami akan kembali ke asal kami,” kata satu lagi.
“Kami akan menjadi bintang di langit,” kata yang lainnya.
“Apabila Bapak melihat kami ke arah barat yang artinya katetei langit, janganlah pergi mencari ikan di laut, sebab hari itu sangat buruk atau menimbulkan penyakit,” pesan seorang lagi.
“Jika kami berada di arah timur itu menandakan hari itu sangat baik untuk mencari ikan dan ikannya banyak,” kata yang lainnya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Setelah berpesan maka berangkatlah mereka dengan perahu. Mereka mengikuti arus sungai Rereiket, lama-kelamaan sampailah mereka di muara sungai (kamoan oinan) dan berserulah mereka kepada perahu (kinapat) tersebut. “Hai engkau sampan, naiklah ke atas awan bersama kami,” katanya.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Naiklah mereka bersama sampan itu ke atas awan. Terdengarlah berita oleh tiga gadis pasangan mereka. Maka ketiga gadis itu segera mempersiapkan alat dan mengikuti jejak kedelapan pemuda itu.Sesampainya mereka di langit, kedelapan pemuda itu melihat mereka, maka berserulah mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
“Hei gadis-gadis janganlah kalian mengikuti kami, kami akan pergi ke daerah asal kami, inilah tali pengikat pendayung kalian,” kata mereka.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Dilemparkannya tali tersebut. Tapi cewek-cewek itu tak menghiraukan kata-kata mereka. Mereka terus saja mengejar untuk mendapatkan ketiga pemuda idaman mereka. Setelah lama kejar-kejaran, karena gadis-gadis itu kelaparan maka para pemuda itu melemparkan makanan. Tapi kemudian gadis-gadis itu tidak bisa mengejar, maka pemuda-pemuda itu segera menyumpah ketiga gadis itu menjadi bintang. Saat itu juga mereka menjadi bintang. Makanan mereka (baklat saina’) dan tali rotan untuk pengikat pendayung juga menjadi bintang. Setelah itu kedelapan pemuda itu dengan perahu mereka pun ikut menjadi bintang.
Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Bintang delapan mata yang berdekatan itulah kedelapan pemuda itu. Bintang yang berbaris tiga mata adalah ketika gadis yang sedang dalam sampan. Bintang yang bersegi tiga menandakan dagu babi (baklat saina’).

Sibalu Sibailiu Panyanyat oleh Donatus Samapopoupou
Artikel Cerita Rakyat Lain
Patung Penyu di Sungai Pasosoat
oleh Pius Beriuku’ Samangilailai, warga Desa Sioban, Sipora.
Jumat 22 September 2006 - 15:41:54
Al-Jum'a, 28 Sha'ban 1427 H - 15:41:54
Beberapa Kisah di Masa Lampau
oleh Anjel Rusdianto Saleleubaja
Selasa 14 Maret 2006 - 20:55:57
Ats-Tsalatsa, 13 Safar 1427 H - 20:55:57
Mulanya Biawak Makan Bangkai
oleh Filemon Sabailatty
Jumat 03 Februari 2006 - 01:45:35
Al-Jum'a, 4 Muharram 1427 H - 01:45:35
Manusia Kodok
oleh Fidelis Leman Sakela'asak
Jumat 27 Januari 2006 - 01:25:00
Al-Jum'a, 27 Dhul Hijja 1426 H - 01:25:00
Arti Persahabatan di Mentawai
oleh Andreas Bazatulo Zebua
Minggu 22 Januari 2006 - 02:45:15
Al-Ahad, 22 Dhul Hijja 1426 H - 02:45:15
Singoru-Ngorut dan Si Seggu-Seggu
oleh Pirja Pius Satairarak
Sabtu 17 Desember 2005 - 23:40:20
As-Sabt, 16 Dhul Qada 1426 H - 23:40:20
Sejarah Gua Sipukpuk
oleh Filemon Sabailatty
Sabtu 19 November 2005 - 17:34:56
As-Sabt, 17 Shawwal 1426 H - 17:34:56
Awal Mula Kematian Manusia
oleh Swandi Sakerengan
Kamis 03 November 2005 - 20:03:32
Al-Hamis, 1 Shawwal 1426 H - 20:03:32
Asal Usul Nama-Nama Pulau
oleh Anjel Rusdianto
Kamis 03 November 2005 - 11:42:32
Al-Hamis, 1 Shawwal 1426 H - 11:42:32
Copyright (c) Tabloid Alternatif Puailiggoubat
Design by Djamboe WebDesign