Alkisah, konon nenek moyang orang Mentawai pada zaman dahulu hidup lebih baik dan nyaman dibanding turunannya yang ada sekarang. Mereka dapat menikmati kehidupan lebih enak karena serasi hidup dengan alam. Berikut beberapa kisah tentang itu.Dahulu pohon sagu tidak begitu sulit ditebang. Cukup kulitnya dikupas, mulai dari pangkal, maka keluarlah isinya. Kalau isinya bagus maka dijadikan makanan. Begitu seterusnya. Namun setelah habis isi sagu bagian bawah, maka mereka terpaksa memanjat untuk mendapatkan isi sagu bagian atas, semakin lama semakin tinggi, hingga akhirnya mereka terjatuh.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto SaleleubajaSejak itu mereka trauma, hingga akhirnya pohon sagupun diambil dengan cara menebangnya terlebih dulu. Itulah yang terjadi sekarang.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto SaleleubajaDahulu konon batang tumbuh sangat panjang. Meski begitu pohonnya tidak pernah tumbang. Karena khawatir nanti pohon itu bisa tumbang maka buru-burulah orang menupangnya dengan kayu (tuturakat). Sampai sekarang bila kita menanam tebu, baik di samping rumah maupun di ladang kalau sudah panjang pasti kita tupang agar tidak rebah.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto SaleleubajaDahulu orang Mentawai tidak memelihara ayam karena ada burung ‘ngorut’ atau merpati Mentawai yang dijadikan ayam. Kalau mereka ingin sambal mereka tinggal tangkap dan sembelih dan memakannya sampai puas.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto SaleleubajaNamun ada orang Mentawai yang memelihara bilou (monyet). Suatu hari ‘ngorut’ datang dan mematuk mata bilou itu hingga tewas. Karena mereka lebih sayang bilou daripada burung, akhirnya ia memukul ‘ngorut’ sehingga burung itu dan burung-burung lainnya yang biasa jinak terbang menjauhi manusia. Saat itulah orang Mentawai terpaksa memelihara ayam.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto SaleleubajaDulu manusia juga bisa melihat setan atau ‘taikaleleu’. Mereka sering bertemu, berteman, dan saling tukar pikiran. Lalu suatu hari mereka mengadakan pesta bersama.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto SaleleubajaDalam pesta itu manusia memberikan ayam putih kepada ‘taikaleleu’. Akibatnya, taikale-leu bisa melihat manusia, tetapi manusia tidak dapat lagi melihat ‘taikaleleu’. Hanya dukun atau sikerei saja yang dapat melihat mereka.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto SaleleubajaTerakhir adalah cerita tentang ‘opa’ atau keranjang rotan yang kini biasa disandang orang Mentawai. Konon dulu, keranjang ini tidak disandang, tetapi berjalan sendiri. Tetapi karena jalannya agak lambat maka manusia mengejeknya.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto Saleleubaja"Lambat sekali kamu berjalan!" kata seorang pemuda yang hendak bergegas ke ladangnya. Karena ia jengkel maka ditendangnya keranjang itu. Akhirnya ‘opa’ itu berkata.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto Saleleubaja"Sekarang kamu telah menendang aku, karena itu mulai sekarang kamu akan menyandangku."
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto SaleleubajaApa hendak dikata manusia tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Tiba-tiba ‘opa’ tidak lagi bisa berjalan dan terpaksa disandang di bahu.***
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto Saleleubaja
Tulisan ini sebelumnya naskah peserta Lomba Penulisan Cerita Rakyat Mentawai (Pumumuan) Pualiggoubat-YCM, 2003 kategori umum. Ditulis oleh: Anjel Rusdianto Saleleubaja, warga Muara Siberut, Siberut Selatan.
Beberapa Kisah di Masa Lampau oleh Anjel Rusdianto Saleleubaja