Tabloid Puailiggoubat
Tabloid Puailiggoubat Edisi 145/Tahun VII, 15-31 Mei 2008
Polling


Apakah anda setuju HPH PT Salaki Summa Sejaterah (SSS) mengambil kayu dari Mentawai?



Setuju

Tidak Setuju



Dipublikasikan oleh Rus Akbar
Pemilih: 1815 Komentar: 18
Jajak pendapat sebelumnya

Online
Pengunjung: 2, Anggota: 0 ...

paling banyak online: 236
(Anggota: 0, Pengunjung: 236) pada 06 Jun : 01:13
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom
Username:

Password:


ingat informasi login


Tak Ingin Pasrah Menunggu Tsunami

Minggu 30 September 2007 - 13:23:41
Kategori Lingkungan

Puailiggoubat - Selasa lalu puluhan warga Pokai, Siberut Utara, Mentawai bahu-membahu menebas semak belukar dan akar pohon yang melintang. Deru mesin chain saw (gergaji mesin) meraung, para lelaki bekerja keras sementara ibu-ibu juga sibuk menyiapkan konsumsi. Mereka begitu bersemangat membuka jalur evakuasi untuk penyelamatan diri bila terjadi tsunami dari Pokai ke Brambang sepanjang 4 kilometer.


M. Misno, salah seorang warga yang ikut bergotong royong mengatakan, mereka warga Pokai tidak mau pasrah menunggu tsunami. Dusun Pokai, di Siberut Utara adalah daerah yang paling berbahaya bila terjadi tsunami, karena dusun yang terletak di Teluk Pokai yang berpenduduk 300 jiwa itu jauh dari perbukitan.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Tak Ingin Pasrah Menunggu Tsunami
Bukit Tamairang yang biasanya dipakai masyarakat Siberut Utara untuk tempat mengungsi berjarak 8,5 kilometer dari Pokai sehingga tidak memungkinkan warga Pokai untuk berlari ke tempat itu dalam waktu singkat.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Tak Ingin Pasrah Menunggu Tsunami
“Kami warga Pokai mungkin yang paling trauma, karena tsunami di Aceh juga bisa terjadi di sini, sedangkan tempat lari tidak ada bukit yang dekat, makanya kami sekarang membangun jalan mencari tempat yang agak tinggi,” kata Misno.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Tak Ingin Pasrah Menunggu Tsunami
Brambangan yang dijadikan tempat pengungsian sebenarnya tidaklah perbukitan, namun jaraknya 4 kilometer dari laut dan ketinggiannya sekitar 5 meter. Bila tsunami diperkirakan datang, kata Misno, dari Brambang mereka bisa menempuh jalan setapak sepanjang 2 kilometer ke Bukit Tamairang.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Tak Ingin Pasrah Menunggu Tsunami
Ia akan mengusulkan jalur evakuasi terbaik di Brambang karena di sana ada Gunung Gambereng. Brambang merupakan jalan menuju Dusun Terekan, lokasi tersebut merupakan daerah tercepat untuk evakuasi. Bila jalan ke Brambang mulus, bisa ditempuh selama 45 menit. Pembukaan jalan itu dibantu dana Bandes (Bantuan Desa) Desa Sikabaluan Rp5 juta dan dua anggota DPRD Mentawai asal Siberut Utara menyumbang 30 liter bensin.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Tak Ingin Pasrah Menunggu Tsunami
Kini jalan ke Brambang telah rampung dan 41 kepala keluarga sudah membangun pondok-pondok tempat pengungsian.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Tak Ingin Pasrah Menunggu Tsunami
Di beberapa tempat di Mentawai warga mulai membersihkan lagi jalan untuk jalur evakuasi ke arah perbukitan. Di pantai barat Siberut relatif lebih aman karena dekat dengan bukit. Di Siberut Selatan sejak dua tahun lalu warga sudah membuat tempat pengungsian dengan 13 lokasi, di Muara Siberut 3 lokasi, Maileppet 6, Puro 3, dan Muntei 1.
Di Pagai warga juga sudah mempersiapkan tempat pengungsi permanen dengan membangun pondok-pondok di atas bukit. Warga Pagai lebih beruntung, karena pemukiman umumnya ada di tepi bukit.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Tak Ingin Pasrah Menunggu Tsunami
Tempat evakuasi bisa dicapai dalam 10 menit. Yang perlu ditambah saat ini adalah menyediakan cadangan makanan di tempat pengungsian. Seperti yang dilakukan warga Siberut Utara yang telah jauh hari menanam pisang dan keladi di Bukit Tamairang tenpat pengungsian mereka, sehingga saat mengungsi karena gempa 12 September lalu, warga tidak kelaparan karena sudah tersedia keladi dan pisang untuk dimakan beberapa hari.
Idealnya di tempat pengungsian pemerintah dan masyarakat harus mendirikan gudang stok makanan, minuman, peralatan memasak, dan obat-obatan. Bahan makanan yang disimpan ini harus selalu diperbaharui atau diganti. Selain makanan, di tempat pengungsian juga harus tersedia tenda, selimut dan tikar. Dengan begitu, masyarakat siap bertahan menghadapi gempa dan tsunami. (ynt/bs/spr/puailiggoubat)
email to someone model cetak buat pdf untuk berita ini
Copyright (c) Tabloid Alternatif Puailiggoubat
Design by Djamboe WebDesign