Kamis 21 September 2006 - 16:53:25 Puailiggoubat - Edi Sutanto, pemuda dari Nang-nang Sikabaluan menjadi pencari kayu bakar sejak harga BBM naik. Harga seikat kayu itupun relatif murah, satu ikat kayu dengan diameter 30-40 cm dengan harga Rp4-5 ribu. Itupun bersaing dengan penjual kayu lainnya. Dalam seminggu ia hanya bisa menjual 10 ikat atau sekitar Rp50 ribu per minggu. Pembeli akan melonjak pada Hari Raya Idul Fitri. Agar usahanya tetap laris Edi punya tips menjualnya ke pelanggan rutin. berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Rp5.000 Seikat Kayu Bakar untuk Menopang Hidup“Kayu api yang diambil biasanya kayu yang keras, tapi mudah untuk dibelah-belah, tempat pengambilan kayu ini sekitar lima hingga enam kilometer dari pemukiman warga dan untuk menjadikan kayu bakar memakai alat sederhana saja memakai kapak dan parang,” ujarnya. berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Rp5.000 Seikat Kayu Bakar untuk Menopang HidupKayu api yang telah dipotong-potong tersebut dibawa dengan gerobak ke rumah untuk dibelah dan diikat menurut ukuran pasarannya. Menjualnya cukup diletakkan saja dipinggir jalan dekat rumah. Tapi bagi pelanggan rutin langsung diantar kerumahnya. Nilus dan Martin juga melakukan usaha yang sama dengan Edi. Usaha ini dilakukan karena tidak ada lagi usaha yang bisa dilakukan untuk menopang hidup mereka.(bs/Puailiggoubat) |