Kamis 21 September 2006 - 16:49:24
Puailiggoubat - Tapi mereka mengeluhkan mulai berkurangnya tanaman sagu.
Warga Sikabaluan, khususnya Dusun Nang-nang kembali banyak yang mengola sagu. Banyaknya warga yang mengola sagu tidak lepas dari masalah ekonomi serta bahan pokok yang harganya semakin melambung tinggi. Sagu yang diolah selain untuk makanan dalam kehidupan sehari-hari juga untuk dijual. Hasil penjualan digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Warga Sikabaluan Kembali Mengolah SaguTernyata mengolah sagu sangatlah sulit dan juga kadang hasil yang didapat tidak memuaskan. Untuk mengolah satu batang sagu yang dikerjakan dengan cara sederhana diselesaikan dalam waktu dua minggu dan kalau menggunakan mesin penggiling sagu yang ada di Pastoran dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Warga Sikabaluan Kembali Mengolah SaguKoyo, 40 tahun, kepada Puailiggoubat, 27 Mei lalu mengatakan, mengolah sagu satu batang saja belum menguntungkan bagi yang mengolahnya, tergantung rezekinya.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Warga Sikabaluan Kembali Mengolah Sagu“Dalam satu batang sagu yang baik dapat menghasilkan 10-15 karung dengan berat tiap karung rata-rata 50 kg, tetapi kalau batang sagu tersebut kurang bagus, hanya dapat 4-5 karung saja,” katanya.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Warga Sikabaluan Kembali Mengolah SaguWarga yang ingin menggiling sagunya di mesin pastoran membayar untuk satu batang sagu 50 kg tepung sagu. “Jadi dari pada dibayar dengan uang untuk beli minyak mesin lebih baik diganti dengan sagu, agar orang tua yang menggiling sagunya tidak kesulitan,” kata Suster Ronita.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Warga Sikabaluan Kembali Mengolah SaguHarga sagu yang murah dikeluhkan warga, karena dengan harga seperti itu belum sebanding dengan harga beras dan kebutuhan lainnya. Untuk 1 kg tepung sagu yang dijual ke Pastoran dengan harga Rp700 dan daya tampungnya cukup banyak, tetapi kalau dijual di luar dengan harga Rp1.000-1.500 per kg. Tapi daya beli agak kurang.
Sedangkan untuk beli beras per kilo di Sikabaluan rata-rata Rp6.000 per kg dan belum lagi harga minyak tanah yang naik hingga Rp4.000 per liter, itupun jumlah pasokan untuk Sikabaluan sangat kurang.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Warga Sikabaluan Kembali Mengolah SaguYang menjadi masalah bagi pengelola ke depan ialah jumlah batang sagu mulai berkurang. Penyebab utama karena warga tidak lagi melakukan penanaman secara besar-besaran seperti yang dilakukan pada tanaman lainnya. Ditambah dengan membuka lahan yang luas dan membawa bibit tanaman yang susah serta membersihkan lahan tersebut. Ini juga membutuhkan tenaga yang banyak dan kuat.
berita Tabloid Alternatif Puailiggoubat: Warga Sikabaluan Kembali Mengolah SaguWarga Sikabaluan akan mengolah sagu saat lebaran dan menjelang anak-anak memulai tahun ajaran baru, karena hasil olahan sagu tersebut digunakan untuk biaya sekolah mereka. (bs/Puailiggoubat).