Foto & Video

berita » Berita Terbaru
Kamis, 10 Juni 2010 Pukul 11:55 WIB

Mahasiswa Mentawai Tolak Sawit

PADANG-Tujuh organisasi mahasiswa dan pemuda Mentawai menyatakan penolakan mereka terhadap rencana dibukanya perkebunan kelapa sawit di Mentawai. Me

Mahasiswa Mentawai menolak saiwit
reka mengecam keras izin lokasi yang dikeluarkan Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai

 Sebanyak 7 organisasi mahasiswa dan pemuda Mentawai yang berada di Padang menyuarakan penolakannya atas rencana pembukaan perkebunan kelapa sawit seluas 73.500 hektar di Mentawai. Izin Lokasi yang keluarkan Bupati Mentawai Edison Saleleubaja mendapat kecaman keras dari mahasiswa,  hal itu terungkap dalam diskusi antar mahasiswa Mentawai di Gedung GPIB (Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat) di Jalan Bagindo Aziz Chan, Sabtu, 22 Mei lalu.

“Diskusi ini dilakukan bukan karena inisiatif satu lembaga, kondisi ini kami lakukan karena ratusan facebooker melakukan diskusi menolak sawit karena berdampak negatif, forum ini sekedar mengakomodir semangat itu, dalam diskusi ini tidak ada arahan untuk menolak dan menerima, hanya berbagi informasi dan pemikiran saja,” kata Jaya Cristoper, moderator, saat membuka acara.

Sebelum membuka diskusi panitia memutar film dokumenter “Maju atau Mundur, Suara dari Perkebunan Sawit” produksi bersama Sawit Watch,  Life Mosaic, dan Friend of the Earth, LSM yang bergerak di bidang advokasi persawitan, berdurasi 39 menit. Film tersebut mengenai sawit serta dampaknya yang dialami oleh masyarakat yang tinggal dan bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Riau. Dalam film itu tak terlihat kesejahteraan, yang ada hanya kesengsaraan dan himpitan ekonomi.

Usai pemutaran film itu diskusi dilanjutkan dengan menghadirkan, Inda Fatinaware, Koordinator Divisi Penguatan Organisasi Rakyat, Departemen Inisiatif Mitigasi Risiko Sosial dan Lingkungan, Sawit Watch. Saat memberikan pemaparan soal sawit tersebut Inda terlebih dahulu mendudukkan masalah ini, dikatakannya kehadirannya dalam diskusi tidak untuk memprovokasi, tapi menjelaskan kepada mahasiswa apa dampak buruk dan baiknya sawit tersebut. “Kehadiran saya saat ini bukan memprovokasi kawan-kawan mahasiswa Mentawai untuk menolak sawit, tapi menjelaskan kepada kawan-kawan dampak dari kebun sawit, ini sesuai dengan pekerjaan kami di Sawit Watch, keputusan ada sama kawan-kawan,” katanya.

Sawit Tanaman Sejenis

Pembukaan sesi pertama Inda menjelaskan asal-usul dari sawit, menurut Inda sawit itu berasal dari Afrika Barat. “Sawit merupakan tanaman sejenis, ketika menanam sawit ini tidak boleh ada tumbuhan lain yang hidup berdampingan dengan tanaman lain, seperti pisang, keladi, ubi-ubian itu tidak bisa, kalau tetap ditanami maka sawit itu tumbuh tidak akan subur, selain itu kriteria sawit tersebut rakus air, hara (unsur kesuburan tanah), racun dan butuh pemupukan yang intensif,” katanya.

Ia juga mengatakan sawit pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1812 dibawa Belanda, kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor sebanyak empat batang. Pada tahun 1921, lanjut Inda, sawit ditanam di Medan, Sumatera Utara oleh para kompeni Belanda dan sistem pengelolaannya juga dikelola secara kompeni (company, perusahaan) atau kolonialisme dan sistem tersebut masih diterapkan sampai saat ini. “Hingga saat ini sawit hampir seluruh Indonesia di tanami pohon sawit, mulai dari Aceh sampai Papua,” ujarnya.

Kalau dilihat Mentawai, kata Inda, merupakan pulau kecil secara geologi dan ancaman gempa serta pemanasan global, Mentawai bisa tenggelam seperti yang terjadi pada beberapa pulau di dunia. Sementara masyarakatnya merupakan masyarakat adat di mana dalam pemilikan tanah berbentuk ulayat yang dimiliki bersama.

“Budaya masyarakat akan menghilang karena telah diatur oleh pemilik perkebunan, misalnya jam kerja, harga akan ditentukan oleh perusahaan dan masyarakat akan menjadi buruh, jaminan kesehatan tidak dijamin oleh perusahaan. Di daerah lain yang telah ada sawit budaya bersama dan adat istiadat serta kekeluargaan menjadi hilang lantaran orang cenderung mementingkan diri sendiri karena letih mengurus sawit,” tegasnya. (rus)

Contact form