Foto & Video

berita » Berita Terbaru
Kamis, 10 Juni 2010 Pukul 11:37 WIB

Gerakan Tolak Sawit Juga Ramai di Facebook

PADANG-Gerakan tolak sawit juga ramai di facebook. Di jejaring sosial bertajuk Gerakan Tolak Perkebunan Kelapa Sawit Mentawai  yang dibuka sejak 10 M

Facebook gerakan tolak sawit
ei 2010 ini sudaf terdaftar 214 pendukung. Rata-rata menolak sawit dengan berbagai argumentasi.

Tak hanya ungkapan penolakan, beberapa orang juga memberikan dukungan terhadap masuknya perkebunan sawit, dengan alasan membuka lowongan kerja dan mengurangi pengangguran,  namun pernyataan tersebut ‘digempur’ para penolak kebun sawit, berikut diskusi di dunia maya yang dikutip Puailiggoubat.

Sikaraja Berthoes misalnya berkomentar, “Jangan biarkan para pengusaha itu memperbesar perut mereka, dari tanah yang setengah mati telah dijaga oleh para leluhur kita ...”

Dhanieaty Lovly R berpendapat, “Saya lebih suka dan senang karena dengan adanya kelapa sawit Mentawai makin maju dan lowongan kerja banyak dibutuhkan sehingga warga Mentawai tidak banyak yang pengangguran.”

Firdaus Satoinong  membalas, “Betul itu, tetapi kita sebagai orang intelek perlu kita buat gebrakkan masalah masuknya kebun sawit di Mentawai agar masyarakat kita tidak terlena dengan rayuan manis dari pihak investor.”

Aidaw Yudas, menegaskan, “Ok kita sepakat hal itu. tapi pertanyaannya sekarang Mentawai yang mana yang mendapatkan kesempatan bekerja...? Sejauh saya ketahui Mentawai secara umum tidak paham tentang pengelolaan kelapa sawit...apakah mau perusahaan mempekerjakan orang yang tidak profesianal..? Saya yakin perusahaan tadak mau rugi...lho..kalaupun dipekerjakan kita hanya bisa sebagai buruh atau menjadi penonton pekerja..”

Reza Fernanda mencela, “Saya bingung dengan statemen Anda, pekerjaan yang mana yang Bung maksud,yang ada hanya akan menjadi buruh di tanah sendiri, ditindas di tanah sendiri, hak2 masyarakat akan tanah dirampas, tidak etis Bung, lebih mulia mereka jadi petani di tanah sendiri, tinggal bagaimana membina mereka,saya heran lihat intelektual muda saat ini yang tak kritis dalam bersikap,saya menyatakan perang untuk sawit di Mentawai..”

Henry Dunan Sirait berpendapat,  “Anak bangsa Kepulauan Mentawai tidak boleh menjadi \'buruh tani\' di tanah miliknya sendiri... Bahkan bisa jadi di kemudian hari anak-anak kita akan benar-benar menjadi kuli tani. Bukan lagi petani sejati karena tanahnya telah dipakai orang untuk puluhan tahun, bahkan ratusan tahun yang kontraknya diperpanjang. Mau jadi apa lagi itu tanah saat dikembalikan? ... Menjadi ‘nenek tua’ yang peot nggak produktif lagi. Tenaganya telah terkuras dan potensinya sudah berlalu...Nah.., anak negeri tinggal apanya buatmu...? Pemda harus memperbanyak tenaga penyuluh pertanian yang handal dan profesional. Tunjangan insentif mereka harus diperbanyak dan fasilitas disediakan yang membuat mereka produktif... agar usaha pertanian rakyat semesta dapat diterapkan. Kita nggak boleh latah dengan daerah lain.. Seharusnya rancangan pembangunan Mentawai, bahkan rencana perkotaannyapun seharusnya unik, tidak perlu harus menjadi seperti kota-kota lain. Kita rindu sekali waktu Mentawai menjadi kota yang unik, baik dari tatanan perkotaannya juga pendapatan daerahnya. Itu harus dimulai dari sekarang, mumpung belum semrawut. Masyarakat bisa diajak kompak, jika pemerintah benar-benar diyakini memihak pada rakyat. Sistem egalitarian kawan-kawan di pulau adalah sesuatu yang positif untuk dapat membangun bersama. Mari bangun terus sikap koperatif untuk hal ini... !

Jejaring ini sekaligus juga menjadi ajang distribusi informasi tentang segala hal yang menyangkut rencana masuknya perkebunan sawit skala besar ke Mentawai. Termasuk informasi diskusi mahasiswa Mentawai dan soal terbentuknya GMMGS (Gerakan Mahasiswa Mentawai Gugat Sawit) yang digagas oleh Formma (Forum Mahasiswa Mentawai) Sumbar,  (Formma) Sumbar, Hipmim (Himpunan Pelajar Mahasiswa Islam Mentawai), Gempar ( Gerakan Mahasiswa Pelajar Spora), Himapelpus (Himpunan Mahasiswa PUS), Impedesma ( Ikatan Mahasiswa Pelajar Desa Madobag), Impass (Ikatan Mahasiswa Pelajar Saibi Samukop), IPMM (Ikatan Pelajar Mahasiswa Matotonan), IPPTA (Ikatan Pemuda Pelajar Taileleu), GP-GKPM (Gerakan Pemuda GKPM) Jemaat Padang dan individu asal Mentawai lainnya. (rus)

Contact form